Kebutuhan sexsual

Posted: 22 Januari 2011 in KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

KEBUTUHAN SEXSUALITAS

(disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah kebutuhan dasar manusia)

 

Di susun Oleh Kelompok :


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN ( SEMESTER 3 KARYAWAN B )

Jl. Tanjung Sukur No. 10 Sumanding Wetan Banjar Telp. (0265) 741100

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual. Seksualitas merupakan aspek yang sering di bicarakan dari bagian personalitas total manusia, dan berkembang terus dari mulai lahir sampai kematian. Banyak elemen-elemen yang terkait dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut termasuk elemen biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks sekundernya dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan psikososial laki-laki dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya.

Perkembangan seks manusia berbeda dengan binatang dan bersifat kompleks. Jika pada binatang seks hanya untuk kepentingan mempertahankan generasi atau keturunan dan dilakukan pada musim tertentu dan berdasarkan dorongan insting. Pada manusia seksual berkaitan dengan biologis, fisiologis, psikologis, sosial dan norma yang berlaku. Hubungan seks manusia dapat dikatakan bersifat sacral dan mulia sehingga secara wajar hanya dibenarkan dalam ikatan perkawinan. Jika hubungan seks binatang dapat dilakukan di sembarang tempat, tidak demikian halnya manusia, karena dalam melakukan hubungan seks diperlukan tempat yang layak, sesuai dengan norma tertentu dan didahului oleh satu permainan yang mengasyikkan. Pertumbuhan dan perkembangan seks manusia sesuai dengan makin bertambahnya umur dan dimulai sejenak kelahirannya.

1.2. Tujuan Penulisan

Maksud makalah ini adalah dalam rangka sebagai bahan masukan untuk substansi materi muatan kebutuhan dasar manusia. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keperawatan secara umum, mencakup pengertian dasar, ilmu keperawatan, kebutuhan seksual, masalah terkait dengan keperawatan. Diharapkan, makalah ini dapat memberikan penjelasan terutama tentang kebutuhan dasar manusia di dalam kebutuhan seksual.

1.3. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang diterapkan dalam penyusunan naskah akademis ini melalui;

a.         Pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memperhatikan norma – norma atau nilai-nilai yang ada dan berkembang dimasyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis;

b.         Studi kepustakaan yaitu menelaah bahan-bahan baik berupan perundang-undangan, hasil pengkajian, hasil-hasil penelitian dan referensi lain yang relevan.

c.         Diskusi dengan para pakar dibidangnya.

1.4. Sistematika Penulisan

Adapun Sistematika penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut

  • Bab I (Pendahuluan)
  • Bab II ( Tinjauan Teori)
  • Bab III ( Tinjauan Kebutuhan Dasar)
  • Bab IV ( Materi Diskusi)
  • Bab V ( Simpulan Dan Saran)
  • Daftar Pustaka

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1.      Pengertian kebutuhan seksual

Seksualitas sulit untuk di definisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai perintregrasian aspek somatik emosional intelektual dan social dari kehidupan seksual dengan cara yang positif memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta. Banyak orang salah berpikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas dan seks bagaimanapun adalah sesuatu hal yang berbeda seks sering digunakan dalam 2 cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk member lebel jender, baik sesorang itu pria atau wanita. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan atau sama dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerak tubuh, etiket berpakaian, dan perbendaharaan kata. Seksualitas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup ini sering berbeda antara pria dan wanita (Denney dan Quadagno, 1992; Zawid, 1994)

Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekpresi pada dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, menyayangi, sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua tersebut.

2.2. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia

1. Anatomi Sistem Reproduksi

1)      Pria

a.         Testis

terletak di dalam skrotum.Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

b.        Saluran

  • Epididimis Fungsinya mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma.
  • Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.
  • Uretra punya 2 fungsi: Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air
  • kemih dari kandung kemih Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.
  • Vesicula Seminalis adalah sepasang kantong yang memproduksi 60% cairan air mani dimana air sperma diangkut, cairan ini digunakan untuk menyediakan nutrisi bagi sperma.

c.         Kelenjar

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma

Kelenjar Cowper menghasilkan cairan berwarna bening menuju saluran kencing saat rangsangan seksual sebelum ejakulasi dan orgasme.

d.        Organ Genitalia eksterna

Organ Genitalia eksterna terdiri atas :

a.       Penis terdiri dari:

  • Akar (menempel pada didnding perut)
  • Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
  • Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.

b.      2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan.

c.       Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.Jika terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

d.      Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.

2) Sistem reproduksi wanita

a. Eksternal

Mons pubis berfungsi melindungi organ seksual bagian dalam.
Klitoris (kelentit) adalah organ yang paling peka terhadap rangsangan,
Labia mayora adalah dua lipatan elastis dari kulit, berfungsi dan menutup dan melindungi struktur alat kelamin.

Labia minora adalah dua lipatan kulit sebelah dalam, yang Labia minora letaknya di sebelah dalam dari labia mayora dan lebih tipis, yang dapat menegang bila ada rangsangan seksual.

Perineum adalah jaringan otot yang berbeda di antara vagina dan anus yang menopang rongga panggul dan membantu menjaga organ panggul tetap pada tempatnya.

b. Internal

Kelenjar Bartholin memproduksi cairan seperti lendir saat adanya rangsangan seksual yang memberikan lubrikasi atau pelumasan pada vagina.
G-spot (Grafenberg spot) adalah sebuah area kecil sekitar 1-2 sentimeter dari pintu depan dinding vagina (dekat dengan saluran kencing), kira-kira di pertengahan antara tulang panggul dan serviks.

Serviks (leher rahim) berfungsi saat senggama, sentuhan dengan bagian ini memberikan kenikmatan seksual.

Uterus (rahim) adalah tempat di mana tertanam dan berkembangnya ovum (sel telur) yang sudah dibuahi,  Tuba fallopii (saluran telur) di mana ovum (sel telur) berenang dari ovarium menuju uterus dan di tempat ini pembuahan terjadi.

Ovarium (indung telur) Berfungsi menghasilkan ovum (sel telur) yang dikeluarkan setiap bulannya mulai dari pubertas hingga menopouse.
Endometrium. Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi.

Hormon – hormone reproduksi  GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone). untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).FSH (Follicle Stimulating Hormone). Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis). LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone). Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge).

c. Siklus Menstruasi

Siklus mnstruasi terbagi menjad 4. wanita yang sehat dan tidak hamil, setiap bulan akan mengeluarkan darah dari alat kandungannya.

1.      Stadium menstruasi (Desquamasi), dimana endometrium terlepas dari rahim dan adanya pendarahan selama 4hr.

2.      Staduim prosmenstruum (regenerasi), dimana terjadi proses terbentuknya endometrium secara bertahap selama 4hr

3.      Stadium intermenstruum (proliferasi), penebalan endometrium dan kelenjar tumbuhnya lebih cepat.

4.      Stadium praemenstruum (sekresi), perubahan kelenjar dan adanya penimbunan glikogen guna mempersiapkan endometrium.

5.

2.3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemenuhan Kebutuhan Seksual

a.       Faktor Fisik (Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah menurunkan keinginan seks)

b.      Faktor Hubungan (Masalah dalam berhubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks.Tingkat seberapa jauh hubungan mereka dapat mempengaruhi hubungan seks)

c.       Faktor Gaya Hidup (cth, penggunaan atau penyalahgunaan alkohol atau tidak punya waktu untuk mencurahkan perasaan keinginan seksual dalam berhubungan mempengaruhi keinginan seksual)

d.      Faktor Harga Diri (Tingkat harga diri-klien dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seks)

2.4. Manfaat Hubungan Seks Bagi Wanita Dan Pria

Manfaat hubungan seksual yang khusus bagi wanita adalah sebagai peredam rasa sakit, beberapa penelitian menunjukkan ambang batas rasa sakit pada wanita meningkat secara substansial ketika orgasme.l dan bagi pria adalah memperpanjang usia.Menurut penelitian Cardiff University di Wales, pria yang mencapai orgasme dua kali atau lebih dalam seminggu cenderung hidup lebih lama ketimbang pria yang cuma satu kali orgasme atau tidak sama sekali.

Secara umum, manfaat berhubungan seks adalah : Redakan stres, Tingkatkan daya tahan tubuh, Seks membakar kalori, Sehatkan jantung dan pembuluh darah, Tingkatkan kepercayan diri, Memperbaiki keintiman, Mengurangi rasa sakit, Tekan risiko kanker prostat, Memperkuat otot dasar panggul, Memperbaiki kualitas tidur

2.5. Penyakit Menular Seksual Karena Bakteri

2.5.1. Gonorrhea & Chlamydia

  • Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini
  • Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.
  • Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kemandulan

2.5.2. Syphilis

  • Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
  • Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit
  • Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagiantubuh lain

2.5.3. Aids (Acquired Immune Deficiency Syndrome)/Hiv Disease

  • Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh
  • Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah
  • Dapat menyebabkan kematian setelah sepukuh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
  • Disebarkan melalui hubungan intim dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.

2.6. Tinjauan Seksual Dari Beberapa Aspek

1.         Aspek Biologis

Aspek ini mengandung dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan fisiologi dari sitem reproduksi(seksual), kempamuan organ sex, dan adanya hormonal dan system saraf yang berfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual.

2.         Aspek Pisiologis

Aspek ini merupakan pandangan terhadap indetiatas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.

3.         Aspek sosiial budaya

Aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di masyarakat.

2.7. Perkembangan Seksual

Perkembangan seksual diawali dari masa pranatal dan bayi, kanak-kanak, masa pubertas, masa dewasa muda dan pertengahan umur, serta dewasa.

2.7.1. Masa Pranatal dan Bayi

Pada masa ini komponen fisik dan biologis sudah mulai berkembang. Berkembangannya organ seksual mampu merespons rangsangan, seperti adanya ereksi penis pada laki-laki dan adanya pelumas vagina pada wanita. Perilaku ini terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya perasaaan senang. Menurut sigmund freud, tahap perkembangan psikoseksual pada masa ini adalah :

  1. Tahap oral, terjadi pada umur 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan, atau kenikmatan dapat dicapai dengan menghisap, mengigit, mengunyah, atau bersuara. Anak memiliki ketergantugan sangat tinggi dan selalu minta dilondungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah masalah menyapi dan makan.
  2. Tahap anal, terjadi pada umur 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ii terjadi pada saat pengeluaran feses. Anak mulai menunjukan keakuanny, sikapnya sangat narsitik (cinta terhadap diri sendiri), dan egois. Anak juga mulai mempeljari struktur tubuhnya. Pada tahap ini anak sudah dapat dilatih dalam hal kebersihan.

2.7.2. Masa Kanak-kanak

Masa ini dibagi dalam usia toddler, prasekolah, dan sekolah perkembangan seksual pada masa ini diawali secara biologis atau fisik, sedangkan perkembangannya psikosesksual pada masa ini adalah :

1.      Tahap oedipal/phalik, terjadi pada umur 3-5 tahun. Kepuasaan anak terletak pada rangsangan otoerotis, yaitu meraba-raba, mersakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya. Anak juga mulai menyukai lain jenis. Anak laki cendrung suka pada ibunya daripada ayahnya, sebaliknya anak perempuan lebih suka pada ayahnya, anak mulai dapat mengindentifikasi jenis kelamin dirinya, apakah laki-laki atau perempuan, belajar melalui interaksi dengan figur orang tua, serta mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelaminnya.

2.      Tahap laten, terjadi pad umur 5-12 tahun. Kepuasaan anak mulai terintegrasi, mereka memasuki masa pubertas dan berhadapan langsung pada tuntutan sosial, seperti suka hubungan dengan kelompoknya atau teman sebaya, dorongan libido mulai mereda. Pada masa sekolah ini, anak sudah banyak bertanya tentang hal seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca, atau berfantasi.

2.7.3. Masa Pubertas

Pada masa ini sudah terjadi kematangan fisik dari aspek seksual dan akan terjadi kematangan secara psikososial. Terjadi perubahan secara psikologis ini ditandai dengan adanya perubahan dalam citra tubuh (body image) perhatian yang cukup besar terhadap perubahan fungsi tubuh, pembelajaran tentang perilaku, kondisi sosial, dan perubahan lain, seperti perubahan berat badan, tinggi badan, perkembangan otot, bulu di pubis, buah dada, atau menstruasi bagi wanita. Tahap yang di sebut oleh freud sebagai tahap genital ini terjadi pada umur lebih dari 12 tahun. Kepuasan anak pada tahap ini akan kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta yang matang terhadap lawan jenis.

2.7.4. Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur

Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup dan seks sekunder mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada masa pertengahan umur terjadi perubahan hormonal; pada wanita di tandai denganpengecilan payudara dan jaringan vagina, penurunan cairan vagina selanjutnya akan terjadi penurunan reaksi erksi; pada pria ditandai dengan penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari perkembangan psikososial,sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis, proses pernikahan  dan memiliki anak, sehingga terjadi perubahan peran.

2.7.5. Masa Dewasa Tua

Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina dan jaringan payudara, penurunan cairan vagina dan penurunan intensitas orgasme pada wanita; sedangkan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma, berkurangnya intesintas orgasme, terlambatnya pencapaian ereksi, dan pembesaran kelenjar prostat.

2.7.6. Masa Dewasa Tua (Lansia)

Seksualitas dalam usia tua beralih dari  penekanan pada prokreasi menjadi penekanan pd pertemanan kedekatan fisik komunikasi intim dan hubungan fisik mncri ksenangan (Ebersole & Hess 1994).Tidak ADa alas an bagi individu tdk dpat ttp aktf secara seksual sepanjang mereka memilihnya.Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dgn mmperthnkn aktifitas seksual scra teratur sepnjng hidup.terutama seks bagi wanita hubungan senggama teratur membantu mmperthnkan elastisitas vagina mncegah atrofi dam mmperthnkan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian proses penuaan mempengaruhi perilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia.lansia mngkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang mmbuat sulit   bagi mereka utk melanjutkan aktifitas seksual.dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit kronis medikasi sakit dan nyeri atau masalah kesehatan lainnya.

2.8. Penyimpangan Seksual Pada Orang Dewasa

Beberapa bentuk penyimpangan seksual atau deviasi seksual yang dapat di jumpai di masyarakat antara lain :

  1. Pedofilia yaitu kepuasaan seksual dicapai dengan menggunakan objek anak-anak. Penyimpangan ini di tandai dengan adanya fantasi berhubungan seksual dengan anak di bawah usia pubertas. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kelainan mental, seperti shizofrenia, sadisme organik, atau gangguan kepribadian organik.
  2. Eksibisionisme yaitu Kepuasaan seksual dicapai dengan cara mempertontonkan alat kelamin di depan umum. Hal ini biasanya dilakukan secara mendadak di hadapan orang yang tidak dikenal, namun tidak ada upaya untuk melakukan hubungan seksual.
  3. Fetisisme yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan benda seks sperti sepatu tinggi, pakaian dalam, stocking, atau lainnya. Disfungsi ini dapat disebabkanantara lain karena eksperimen seksual yang normal dan bedah pergatian kelamin.
  4. Transvertisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan memakai pakaian lawan jenis dan melakukan peran seks yang berlawanan, misalnya pria yang senang menggunakan pakaian dalam wanita.
  5. Transeksualisme yaitu Bentuk penyimpangan seksual ditandai dengan perasaan tidak senag terhadap alat kelaminnya, adanya keinginan untuk berganti kelamin.
  6. Voyerisme/skopofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan melihat alat kelamin orang lain atau aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
  7. Masokisme yaitu Kepuasan seksual dicapai melalui kekerasan atau disakiti terlebih dahulu secara fisik atau psikologis.
  8. Sadisme yaitu Merupakan lawan dari masokisme. Kepuasan seksual dicapai dengan menyakiti objeknya, baik secara fisik maupun psikologis (dengan menyiksa pasangan) hal tersebut dapat disebakan antara lain karena perkosaan dan pendidikan yang salah.
  9. Homoseksual dan lesbian yaitu Penyimpangan seksual yang di tandai dengan ketertarikan secara fisik maupun emosi kepada sesama jenis. Kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan orang berjenis kelamin sama.
  10. Zoofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek binatang.
  11. Sodomi yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan hubunagn melalui anus
  12. Nekropilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek mayat.
  13. Koprofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek feses.
  14. Urolagna yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek urine yang di minum.
  15. Oral Seks/Kunilingus yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan kontak mulut dengan alat kelamin wanita
  16. Felaksio yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan mulut pada kelamin laki-laki.
  17. Froterisme/friksionisme yaitu Kepuasaan seksual dicapai dengan menggunakan penis pada pantat wanita atau badan yang berpakaian ditempat umum penuh sesak manusia.
  18. Goronto yaitu kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan lansia.
  19. Frottage yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara meraba orang yang senangi tanpa diketahui lawan jenis.
  20. Pornografi yaitu gambar atau tulisan yang dibuat secara khusus untuk memberi rangsangan seksual (Maramis WF, 2004).

2.9. Bentuk Abnormalitas Seksual Akibat Dorongan Seksual Abnormal

Banyak dorongan seksual abnormal yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi seksual atau terjadinya abnormalitas seksual. Beberapa bentuk abnormalitas seksual akibat dorongan seksual abnormal antara lain:

1. Prostitusi

Bentuk penyimpangan seksual dengan pola dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi dalam kepribadian, sehingga relasi seks bersifat impersonal, tanpa adanya afeksi dan emosi yang berlangsung cepat, dan tanpa adanya orgasme pada wanita. Kejadian ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, prostitusi disebabkan karena keinginan mencari variasi dalam seks, iseng, dan ingin menyalurkan kebutuhan seksual. Pada wanita, kejadian ini dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, adanya disorganisasi kehidupan keluarga, dan adanya nafsu seks yang abnormal

2. Perzinahan

Bentuk relasi seksual antara laki-laki dan wanita yang bukan suami atau istri. Perzinahan pada wanita baru mengarah kehubungan seksual dengan laki-laki lain setelah adanya relasi emosional atau afeksional yang sangat kuat. Pada pria, perzinahan biasanya disebabkan oleh rasa iseng atau dorongan untuk memuaskan seks secara sesaat.

3. Frigiditas

Merupakan ketidakmampuan wanita mengalami hasrat seksual atau orgasme selama senggama. Frigiditas ditandai dengan berkurangnya atau ketidaktertarikan sama sekali pada hubungan seksual atau tidak mampu menghayati orgasme dalam koitus (hubungan intim). Beberapa faktor yang menyebabkan frigiditas adalah kelainan dalam rahim atau vagina, adanya hubungan yang tidak baik dengan suami, rasa cemas, bersalah, atau takut.

4. Impotensi

Ketidakmampuan pria untuk melakukan relasi seks atau senggama atau ketidakmampuan pria dalam mencapai atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini banyak disebabkan oleh faktor psikologis, seperti kecemasan atau ketakutan, pengalaman buruk masa lalu, dan persepsi seks yang salah.

5. Ejakulasi Prematur

Merupakan kondisi dimana terjadinya pembuangan sperma yang terlalu dini sebelum zakar melakukan penetrasi dalam liang senggama atau berlangsung ejakulasi beberapa detik sesudah penetrasi. Masalah ini umumnya disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri serta kegagalan dalam membangun hubungan suami istri.

6. Vaginismus

Peristiwa yang ditandai dengan kejang yang berupa penegangan atau pengerasan yang sangat menyakitkan pada vagina atau kontraksi yang sangat kuat sehingga penis terjepit dan tidak bisa keluar. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan organis dan psikologis (ketakutan).

7. Dispareunia

Keadaan yang ditandai dengan timbulnya kesulitan dalam melakukan senggama atau perasaan sakit pada saat koitus. Kejadian ini dapat terjadi pada saat sperma keluar, karena kurangnya cairan vagina, dan lain-lain.

8. Anorgasme

Kondisi kegagalan dalam mencapai klimaks selama bersenggama, biasanya bersifat psikis, ditandai dengan pengeluaran sperma tanpa mengalami puncak kepuasan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor psikis atau adanya faktor organik seperti ketidakmampuan penetrasi untuk memberi rangsangan atau vagina yang longgar.

9. Kesukaran Koitus Pertama

Keadaan dimana terjadi kesulitan dalam melakukan koitus pertama dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan diantara pasangan, adanya ketakutan atau rasa cemas dalam berhubungan seks, dan lain-lain.

2.10. Siklus Respons Seksual

Siklus respons seksual terdiri atas beberapa tahap berikut:

1. Tahap Suka Cita

Merupakan tahap awal dalam respons seksual pada wanita ditandai dengan banyaknya lendir pada daerah vagina, dinding vagina mengalami ekspansi atau menebal, meningkatnya sensitivitas klitoris, puting susu menegang, dan ukuran buah dada meningkat. Pada laki-laki ditandai dengan ketegangan atau ereksi pada penis dan penebalan atau elevasi pada skrotum.

2. Tahap Kestabilan

Pada tahap ini wanita mengalami retraksi di bawah klitoris, adanya lendir yang banyak dari vagina dan labia mayora, elevasi dari serviks dan uterus, serta meningkatnya otot-otot pernapasan. Pada laki-laki ditandai dengan meningkatnya ukuran gland penis dan tekanan otot pernapasan.

3. Tahap Orgasme (Puncak)

Tahap puncak dalam siklus seksual pada wanita ditandai adanya kontraksi yang tidak disengaja dari uterus, rectal dan spinchter, uretra, dan otot-otot lainnya, terjadi hiperventilasi dan meningkatnya denyut nadi. Pada laki-laki ditandai dengan relaksasi pada spinchter kandung kencing, hiperventilasi, dan meningkatnya denyut nadi.

4. Tahap Resolusi (Peredaan)

Merupakan tahap terakhir dalam siklus respons seksual, pada wanita ditandai adanya relaksasi dari dinding vagina secara berangsur-angsur, perubahan warna dari labia mayora, pernapasan, nadi, tekanan darah, otot-otot berangsur-angsur kembali normal. Pada laki-laki ditandai dengan menurunnya denyut pernapasan dan denyut nadi serta melemasnya penis

2.11. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masalah Seksual

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi gangguan dalam fungsi seksual, diantaranya:

  1. Tidak adanya panutan (role model).
  2. Gangguan struktur dan fungsi tubuh, seperti adanya trauma, obat, kehamilan atau abnormalitas anatomi genitalia.
  3. Kurang pengetahuan atau informasi yang salah mengenai masalah seksual.
  4. Penganiayaan secara fisik.
  5. Adanya penyimpangan psikoseksual.
  6. Konflik terhadap nilai.
  7. Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian

BAB III

TINJAUAN KEBUTUHAN DASAR

3.1.      Konsep Tentang Seksualitas

Seksualitas sulit untuk didefinisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam prilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Banyak orang salah berfikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas dan seks, bagaimana pun, adalah suatu hal yang berbeda. Kata seks sering digunakan dalam dua cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktifitas seksual genital. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas. Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencangkup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tenang diri mereka dan bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan melalui prilaku yang lebih halus.

Proses bagaimana seseorang mengetahui diri mereka sebagai wanita atau pria tidak jelas dipahami. Terlahir dengan genitalia pria atau wanita dan selanjutnya mempelajari peran sosial wanita atau pria tampak sebagai suatu keharusan, namun hal ini tidak menjelaskan semua variasi seksualitas dan perilaku seksual. Keragaman ini lebih dapat dipahami ketika perawat mengingat bahwa seksualitas adalah saling menjalin dengan semua aspek diri. Pertimbangan tentang seksualitas dan kesehatan seksual karenaya, membutuhkan perspektif holistic. Seksualitas dan kesehatan seksual memiliki dimensi sosiokultural, etika, psikologis dan biologis.

3.2.      Sikap Terhadap Kesehatan Seksual

Sikap yang ditujukan pada perasaan dan perilaku seksual berubah sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan seseorang sampai menjadi tua. Perubahan ini mungkin menjadi lebih tradisional  atau liberal karena perubahan masyarakat, umpan balik dari orang lain, dan keterlibatan dalam kelompok keagamaan dan komunitas.

Karena kesejahteraan mencakup kesehatan seksual, maka seksualitas harus menjadi bagian dari program perawatan kesehatan. Namun pengkajian dan interpensi seksual tidak selalu termasuk dalam perawatan. Bidang seksualitas mungkin bersifat sangat emosional bagi perawat dan klien. Kurang informasi, konflik sistem nilai, ansietas, atau rasa bersalah mungkin tidak memberlakukan maksud terbaik perawat untuk meningkatkan kesehatan seksual. Klien mungkin tidak mendiskusikan kekhawatiran seksual tertentu karena mereka merasa topik seperti ini berlebihan atau mereka takut bahwa perawat akan menghakimi mereka. Perawat mungkin mengabaikan isyarat klien tentang kekhawatiran seksual karena mereka merasa tidak nyaman dengan seksualitas. Kata – kata seperti masturbasi, homoseksualitas, aborsi dan orgasme mungkin mempunyai konotasi emosional yang dapat membantu orang merasa tidak nyaman. Pada tingkat yang lebih halus, infasi terhadap privasi, kurang dihargai pada klien yang dirawat di rumah sakit, memerlukan waktu untuk bersama pasangan seksual, atau bahkan cara perwat menyentuh klien mencerminkan sikap yang ditujukan kepada seksualitas.

  • Sikap seksual klien

Semua orang mempunyai sistem nilai seksual yaitu keyakinan pribadi dan keinginan yang berkaitan dengan seksualitas yang dapat sepanjang hidupnya. Pengalaman ini dapat membuat mudah bagi klien untuk berhadapan dengan masalah lingkungan perawatan kesehatan atau dapat menghambat klien untuk mengekspresikannya. Beberapa klien mungkin bingung tentang sistem nilai seksual mereka dan karenanya mengalami perasaan ambigu atau menegangkan ketika menghadapi seksualitas mereka sendiri. Selain itu, jika klien percaya dalam peran yang sesuai berdasarkan tradisional,mereka mungkin menganggap perawat sebagai wanita dan bersikap tunduk.Gambaran historing tentang perawat adalah seseorang dengan kedisiplinan, kesucian, dan kebersihan. Karena perawat mempunyai hak untuk menyentuh tubuh klien yang dirawat di rumah sakit dan melakukan kebersihan diri klien, maka mereka diharapkan menekan seksualitas mereka sendiri. Namun demikian, perhatian utama tentang klien adalah apakah prilaku, sikap, perasaan, dan sikap seksual spesifik adalah normal. Karena masyarakat tidak didorong untuk secara terbuka membicarakan tentang seksualitas.

Klien mungkin kuatir tentanf efek intervensi keperawatan terhadap kemampuan perawatan diri dan aktivitas seksual mereka. Suatu cedera atau penyakit dapat menyebabkan perubahan dalam cara seseorang mengekspresikan diri sendiri secara seksual. Klien yang dirawat harus diberi privasi ketika dikunjungi oleh pasangan seksualnya. Privasi ini memungkinkan waktu untuk pembicaraan intim, menyentuh, atau berciuman. Di lingkungan rumah, perawat meluangkan waktu untuk membantu klien beradaptasi terhadap setiap keterbatasan fisik sehingga aktivitas seksual dapat dipertahankan.

  • Sikap Perawat terhadap Seksualitas

Karena profesional keperawatan kesehatan mewakili masyarakat dan sikap serta prilaku seksualnya yang beragam, maka keragaman itu dipahami dan diharapkan diantara profesional perawatan kesehatan. Perawat dapat menghadapi sikap personal dengan menerima keberadaan mereka, menggali sumber mereka, dan menemukan cara untuk bekerja dengan mereka. Prilaku profesioanl tidak harus berkompromi dengan etik seksual personal dari perawat dan klien. Prilaku profesional harus menjamin bahwa klien menerima perawatan kesehatan terbaik yang paling mungkin tanpa menghilangkan nilai-diri mereka.

Perawat mungkin menemukan kesulitan untuk tidak menghakimi seksualitas klien ketika orientasi atau nilai seksual klien berbeda. Situasi yang tampak aneh atau salah bagi perwat mungkin tampak normal dan dapat diterima oleh klien. Dengan berupaya untuk mengubah sikap dan prilaku seksual klien akan mengabaikan perbedaan mendasar dalam sikap di antara manusia. Promosi tentang edukasi seks dan pemeriksaan nilai dan keyakinan seksual dengan jujur dapat membantu dalam mengurangi bias seksual. Klien membutuhkan informasi yang akurat, jujur tentanf efek penyakit pada seksualitas dan cara yang dapat menunjang kesejahteraan.

3.3. Seks Ditinjau dari Masalah Sosial

Secara sosial hubungan seks baru diperbolehkan bila telah terikat dalam perkawinan. Ditengah masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila,belum dapat diterima kehamilan tanpa status perkawinan yang resmi,atau hidup bersama tanpa pernikahan.Menghadapi gerakan keluarga berencana dianjurkan untuk menikah pada usia yang relatif dewasa (20-25 tahun) sehingga diperlukan waktu panjang mencapai umur itu.

Menghadapi penundaan perkawinan ini para remaja memerlukan penyaluran diri sehingga terhindar dari berbagai aspek hubungan seks yang dilakukan secara sembrono.

Hubungan seks yang bebas sudah tentu akan menimbukan akibat yang tidak diinginkan yaitu kehamilan yang belum dikehendaki,penyakit hubungan seks dan penyakit radang panggul,akhirnya terjadi kemandulan.Dalam situasi masa pancaroba dan menunggu sampai usia kawin inilah peranan orang tua sangat penting mengarahkan remaja menuju tingkah laku tang positif dan terutama dalam pendidikan sehingga dapat mencapai sasaran belajar yang dikehendaki.Disamping itu tingkah laku orang tua pun tidak kalah pentingnya menjadi contoh dan menjadi panutan remaja dalam bertingkah laku. Mendampingi remaja saat ini sangat penting sehingga tercapai cita – cita dan tidak mengurangi masa depan yang lebih baik. Pendidikan seks sangat diperluka, sehingga terdapat pengertian yang benar tentang berbagai masalah hubungan seksual.

3.4.      Hubungan Seks dalam Keluarga

Hubungan seksual dalam keluarga merupakan puncak keharmonisan dan kebahagiaan, oleh karena itulah kedua belah pihak harus dapat menikmatinya bersama. Perlu diakui bahwa pada permulaan perkawinan sebagian besar belum mampu mencapai kepuasan bersama, karena berbagai kendala. Setelah tahun pertama sebagian besar sudah mengerti dan dapat mencapai kepuasan bersama. Didasari bahwa pencapaian organisme pria sebagian besar terjadi lebih dahulu, sedangkan untuk wanita lebih lambat sehingga diperlukan permainan dengan cumbuan yang sempurna. Sekalipun bukan satu-satunya yang dapat memegang kendali kerukunan rumah tangga, tetapi ketidak puasan seks sudah dapat menimbulkan perbedaan pendapat, perselisihan dan akhirnya terjadi perceraian.Itulah sebabnya masalah seksual sebaiknya dibicarakan secara terbuka sehingga tidak mengecewakan dalam keluarga.

3.5.      Seks pada Lansia

Pada usia lanjut tidak ada halangan untuk meningkatkan hubungan seks, hanya frekuensinya tentu makin berkurang, tetapi diharapkan kualitasnya makin meningkat untuk keharmonisan keluarga.Usia lanjut pria dan masa klimakterium atau menopause, bukanlah halangan untuk melakukan hubungan seksual. Kadang-kadang, karena sudah tidak takut hamil, mungkin kepuasan seks dapat meningkat. Masalah yang dihadapi hubungan seks masa usia lanjut adalah keinginan seksual sudah berkurang, daerah erogen (erotik) kurang sensitif sehingga memerlukan rangsangan intensif, agak sulit mencapai orgasme. Oleh karena itu tidak salah bila golongan usia lanjut ini memerlukan bantuan yang salah satunya memutar film erotik yang dapat membangkitkan fantasi seks. Akan sangat keliru bila masyarakat menyalahkan tindakan ini sebagai tidak tahu diri, sudah tua kok masih menonton film biru semacam itu. Untuk menghindari cemoohan masyarakat sebaiknya pemutaran film ini dilakukan dalam kamar tersendiri dan hanya ditonton berdua. Tidak ada alasan bagi individu tidak dapat tetap aktif secara seksual sepanjang mereka memilihnya. Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dengan mempertahankan aktifitas seksual secara teratur sepanjang hidup. Terutama sekali bagi wanita, hubungan senggama teratur membantu mempertahankan elastisitas vagina, mencegah atrofi, dan mempertahankan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian, proses penuaan mempengaruhi prilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia. Lansia mungkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang membuat sulit bagi mereka untuk melanjutkan aktifitas seksual. Dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit kronis, medikasi, sakit dan nyeri, atau maslah kesehatan lainnya.

3.6. Seks pada Kehamilan

Perubahan lain yang dapat terjadi pada aktivitas seks adalah pada masa hamil. Keinginan seks pada waktu hamil sebagian besar tidak berubah, bahkan sebagian kecil makin meningkat, berkaitan dengan meningkatnya hormon estrogen. Oleh karena itu hubungan seks waktu hamil, bukanlah merupakan halangan. Pada kehamilan makin tua teknik pelaksanaannya agak sulit, karena perut makin membesar. Pada saat itu dapat dilakukan posisi siku lutut wanita. Dikemukakan bahwa menjelang dua minggu persalinan diharapkan jangan melakukan hubungan seks, karena dapat terjadi ketuban pecah dan memulai persalinan.

Pada waktu hamil hubungan seks harus dihindari pada keadaan keguguran berulang,hamil dengan perdarahan, hamil dengan tanda infeksi, kehamilan dengan ketuban yang telah pecah, atau hamil dengan luka di sekitar alat kelamin luar. Perubahan dalam seksualitas juga berlanjut setelah persalinan. Beberapa wanita mungkin tetap tidak berminat atau kehilangan respons seksual selama 6 bulan atau lebih. Perubahan hormonal, terutama penurunan estrogen, penurunan jumlah lubrikan yang mempunyai bahan dasar air. Keletihan yang disebabkan oleh menyusui dan gangguan tidur serta perubahan umum dalam tugas dan rutinitas rumah tangga secara negatif mempengaruhi keinginan seksual pada kedua pasangan. Takut tentang rasa nyeri vagina atau luka episiotomi juga dapat mengganggu aktivitas seksual. Secara fisiologis, pasangan harus menahan untuk tidak melakukan hubungan senggama sampai perdarahan terhenti dan luka episiotomi dan ketidaknyamanan vagina menghilang. Hal ini sering terjadi 2 atau 3 minggu setelah kelahiran. Selama periode awal ini dan bahwa dengan menyusui, pasangan perawatan kesehatan harus mendiskusikan tentang pilihan keluarga berencana.

Kurangnya hasrat seksual dan aktivitas seksual selama kehamilan dan setelah persalinan adalah hal yang wajar. Perawat harus memastikan bahwa pasangan mengetahui kemungkinan berkurangnya keinginan seksual sehingga pasangan tidak menginterpretasikan ketidakinginan istrinya dalam berhubungan senggama sebagai penolakan. Pengekspresian seksualitas dan kasih sayang dengan cara lain dapat diberikan. Aktivitas ini dapat mencakup memeluk, berciuman, memegang tangan, dan pijat.

3.7. Masalah Kepribadian dalam Perkembangan Seks

Kepribadian adalah kebutuhan sikap seseorang yang khas dan membedakannya dengan orang lain dalam berbagai hal, termasuk masalah seksual. Dengan demikian dapat dibedakan berbagai bentuk kepribadian sebagai berikut.

  • Kepribadian Terbuka

Mekera sangat terbuka dalam masalah seksual dan dengan mudah dapat diterka oleh orang lain. Mekera siap untuk menerima kritik orang lain sehingga menambah kematangan kepribadiannya.

  • Kepribadian Tertutup

Mereka yang mempunyai kepribadian tutup sukar diterka, dan tidak dapat menyampaikan kepada orang lain. Semua dirasakan dan dipendam sendiri dan berusaha mencari sendiri dan menyembunyikan masalah yang berkaitan dengan seks. Dorongan seksnya ditahan dan mungkin muncul dalam mimpi atau memuaskan diri sendiri (masturbasi).

  • Kepribadian Emosional

Emosinya selalu menguasai dirinya sendiri. Tingkah laku seksnya terlalu menonjol, sehingga setiap perasaan cinta harus diakhiri dengan hubungan seks.

  • Kepribadian Rasional

Dengan kepribadian ini, mereka tidak mudah jatuh cinta dan dicintai. Segalanya dipertimbangkan dengan baik, sehingga hasilnya memuaskan hatinya secara rasional.

3.8. Rencana Asuhan Keperawatan Pada Perubahan Pola Seksualitas

Keadaan Dimana Individu mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dal kesehatan seksual. Kesehatan seksual merupakan integrasi aspek somatik, emosional intelektual dan sosial dari seksualitas dengan cara mencapai dan meningkatkan kepribadian, komunikasi dan cinta.

Rencana Asuhan Keperawatan Pada Perubahan Pola Seksualitas terdiri dari 3 aspek, Yaitu:

  1. Pengkajian
  2. Diagnosa Keperawatan
  3. Intervensi

3.8.1. Pengkajian

Penkajian terdiri dari data objektif dan data subjektif yang bersandar dari batasan-batasan karakteristik. Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan pasien dan wawancara pasien atau keluarga pasien. Data objektif berasal dari Pemeriksaan Fisik yang dilakukan perawat terhadap pasien.

Batasan Karakteristik

  • Mayor (harus terdapat)

Perubahan aktual atau yang antisipasi dalam fungsi seksual atau indentitas seksual.

  • Minor (Mungkin Terdapat)

Ekspresi perhatian mengenai fungsi seksual atau identitas seksual.

Tidak sesuainya prilaku seksual verbal atau nonverbal.

Perubahan dalam karakteristik seksual primer atau sekunder.

3.8.2. Diagnosa Keperawatan

Perubahan pola seksual dapat terjadi sebagai respons terhadap berbagai masalah kesehatan, situasi, dan konflik.

Rumus Diagnosa keperawatan:

P(bd)+E+(dd)S

P= Masalah

E= Etiologi

S= Symtom

bd= Berhubungan dengan

dd= ditandai dengan

Masalah(P): Perubahan Pola Seksualitas

Symptom: suatu tanda/gejala yang berhubungan DS DO

Etiologi(E): Merupakan penyebab terjadinya perubahan pola seksualitas tersebut, yang berhubungan dengan berbagai faktor:

Faktor-Faktor yang berhubungan

  1. Berhubungan dengan efek-efek biokimia pada energi, libido sekunder akibat:
  2. Berhubungan dengan ketakutan terhadap. (penyakit-penyakit hubungan seksual)
  3. Berhubungan dengan efek Alkohol pada kinerja
  4. Berhubungan dengan penurunan lubrikasi Vaginal sekunder
  5. Berhubungan dengan ketakutan terhadap ejakulasi prematur/tertunda
  6. Berhubungan dengan fobio misalkan kehamilan, kanker atau penyakit kelamin
  7. Berhubungan dengan efek-efek biokimia pada energi, libido sekunder akibat:
  8. Berhubungan dengan ketakutan terhadap. (penyakit-penyakit hubungan seksual)
  9. Berhubungan dengan efek Alkohol pada kinerja
  10. Berhubungan dengan penurunan lubrikasi Vaginal sekunder
  11. Berhubungan dengan ketakutan terhadap ejakulasi prematur/tertunda
  12. Berhubungan dengan fobio misalkan kehamilan, kanker atau penyakit kelamin

3.8.3. Tujuan dan kriteria hasil

  • Pola seksualitas pasien dapat teratasi dalam waktu 4 x 24 jam

Kriteria  hasil

Individu akan:

1.      Menceritakan kepedulian atau masalah mengenai fungsi seksual

2.      Mengespresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual

3.      Mengidentifikasi stresor dalam kehidupan

4.      Melanjutkan aktivitas seksual sebelumnya

5.      Melaporkan suatu keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual

3.9. Intervensi Generik

  1. Dapatkan riwayat seksual:
  • Pola seksual biasanya
  • Kepuasan (individu, pasangan)
  • Pengetahuan seksual
  • Masalah (seksual, kesehatan)
  • Harapan
  • Suasana hati, tingkat energi
  1. Berikan dorongan untuk bertanya tentang seksualitas atau fungsi seksual yang mungkin mengganggu pasien.
  2. Gali hubungna pasien dengan pasangannya
  3. Jika stresor atau gaya hidup yang penuh stresor berdampak negatif terhadap fungsi :
  • Bantu individu dalam memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi stres.
  • Dorong identifikasi stresor yang ada dalam kehidupan ; kelompokan menurut individu sebagai dapat mengontrol dan tidak dapat mengontrol :

+ Dapat mengontrol

  • Keterbelakangan pribadi
  • Keterlibatan dalam aktifitas komunitas

- Tidak dapat mengontrol

  • Mengeluh
  • Penyakit anak perempuan
  • Lakukan program latihan teratur untuk reduksi stres. Lihat prilaku mencari bantuan kesehatan untuk intervensi.
  1. Indentifikasi pilihan metode untuk mengaktifkan energi seksual bila pasangan tidak ada atau jika ada keinginan:
  • Gunakan masturbasi, jika dapat diterima individu
  • Ajarkan keuntungan fisik dan psikologis tentang aktifitas fisik teratur ( sedikitnya 3x seminggu selama 30 menit).
  • jika pasangan meninggal, gali kesempatan untuk bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain (sekolah malam,club janda atau duda, kerja komunitas).
  1. Jika suatu perubahan atau kehilangan bagian tubuh mempunyai dampak negatif terhadp fungsi;
  • Kaji tahapan adaptasi dari individu dan pasangan terhadap kehilangan ( mengingkari, depresi, marah, resolusi, berduka)
  • Jelaskan kenormalan dari respon kelanjutan dari kehilangan.
  • Jelaskan kebutuhan untuk membagi perhatian dengan pasangan: gambaran respon dari pasangan, ketakutan terhadap penolakan, ketakutan terhadap kehilangan yang akan datang dan ketakutan secara fisik melalui pasangan.
  • Dorong pasangan untuk mendiskusikan kekuatan hubangan mereka dan untuk mengkaji pengaruh dari kehilangan pada kekuatan mereka.
  • Anjurkan individu untuk mengambil aktifitas seksual sedemikian rupa mendeteksi pola sebelumnya jika mungkin.
  1. Identifikasi penghambat untuk memuaskan fungsi seksual
  2. Ajarkan teknik untuk
  • Mengurangi konsumsi oksigen

Ø  Gunakan oksigen selama aktifitas seksual jika di indikasikan.

Ø  Lakukan aktifitas seksual setelah penatalaksanaan pernapasan tekanan positif intermitent

Ø  Rencanakan aktifitas seksual untuk individu pada saat yang paling segar.

Ø  Gunakan posisi berhungan intim yang nyaman dan biarkan nafas tidak dibatasi.

  • Kurangi beban kerja dari jantung (pasien jantung harus menghindari aktifitas seksual)

Ø  Dalam suhu ekstrim

Ø  Langsung setelah makan dan minum

Ø  Saat intoksitasi

Ø  Saat lelah

Ø  Dengan pasangan yang tidak dikenal

Ø  Istirahat sebelum aktifitas seksual (pagi hari paling baik)

Ø  pasien jantung harus mengakhiri aktifitas seksual jika dada tidak nyaman atau terjadi dispnea.

  • Kurangi atau hilangkan nyeri :

Ø  Jika pelumasan vagina menurun gunakan pelumas cair

Ø  Gunakan pengobatan untuk nyeri sebelum aktifitas seksual

Ø  Gunakan apa saja yang mereklasasikan individu sebelum aktifitas seksual (kantung panas, mani pancuran panas)

  1. Lakukan penyuluhan kesehatan dan rujukan sesuai indikasi.

3.10. Intervensi Pada Anak

  1. Perjelas kerahasian dari diskusi.
  2. Usahakan bersikap terbuka, hangat, objektif, tidak memalukan dan menyenangkan.
  3. Gali perasaan dan pengalaman seksual.
  4. Diskusikan bagimana bakteri di pindahkan secara vaginal,anal, dan oral.
  5. Untuk wanita muda, jelaskan hubungan penyakit menular seksual.
  6. Tunjukan diagram struktur reproduktif.
  7. Tekankan bahwa kebanyakan penyakit menular seksual tidak mempunyai gejala pada awalnya.
  8. Diskusikan pantangan dari persepektif seksual.
  9. Bedakan metode kontraseptif yang tersedia.
  10. Jelaskan dan berikan intruksi tertulis untuk metode yang di pilih.

3.11. Intervensi Pada Lansia

  1. Jelaskan bahwa proses penuaan normal mempengaruhi kemempuan reproduksi tetapi mempunyai sedikit efek pada fungs seksual.
  2. Gali minat, aktivitas, sikap, dan pengetahuan mengenai fungsi seksual.
  3. Bila berhubungan, diskusikan efek-efek penyakit kronis dan fungsi.
  4. Jelaskan efek obat tertentu pada fungsi seksual ( mis, kardiovaskular, antidepresan, antihistamin, gasrointentital, sedatif, alkohol)
  5. Bila disfungsi seksual dihubungkan dengan obat, gali alternatifnya (mis, ganti obat, penurunan dosis)
  6. Dengan pihak wanita, diskusikan kualitas pelumas vagina dan ketersediaan pelumas larut air.
  7. Dorong pertanyaan. Bila diperlukan, rujuk pada ahli urologi atau spesialis lain.

3.12. Intervensi Pada Maternal

  1. Diskusikan perubahan tubuh selama kehamilan. Dorong pasangan untuk mengungkapkan perasaan mereka.
  2. Tenangkan bawa kecuali ada masalah (persalinan preterm, kehilangan ayi sebelumnya, perdarahan atau ruput membrane). Koitus diisinkan sampai mulainya persalinan.
  3. Orgasme akibat berhubungan intim atau masturbasi tidak dianjurkan jika ada bercak atau terjadi pendarahan, ketuban pecah dini atau jika ada riwayat keguguran berulang.
  4. Anjurkan pergantian posisi seksual untuk kehamilan selanjutnya untuk mencegah tekanan abdominal (mis. Miring, wanita berlutut, wanita di atas). Berikan penenangan tentang perubahan pascapartum. Tenangkan bahwa ini adalah keadaan sementara dan akan teratasi dalam 2 sampai 3 bulan.
  5. Tenangkan bahwa perubahan sikap seksual selama kehamilan dari perasaan sangat menginginkan seks sampai hanya ingin dimanja.
  6. Dorong komunikasi jujur dengan pasangan mengenai keinginan atau perubahan dalam minat.
  7. Akui keletihan, khusunya selama trimester persama, bulan terakhir, dan pascapartum.
  8. Dorongan individu menyediakan waktu untuk hubungannya, dalam seksua dan konteks lain.
  9. Ajarkan pasangan untuk berpantang untuk hubungan seks atau koitus dan mencari bantuan dari pemberi perawatan kesehatan mereka bila ada situasi berikut (May & Malmeister, 1994). Perdarahan vagina dan Dilatasi premature.

BAB IV

MATERI DISKUSI

EKSPLOITASI SEKSUAL REMAJA

4.1.      Karakteristik Seksual Remaja

Secara general, definisi seksual adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau berhubungan dengan tindakan dan perilaku hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan perkembangan fisik laki-laki dan perempuan yang berbeda jenis karakter seksualnya, ada pembagian 2 (dua) jenis karakter seksualnya yaitu seksual primer dan seksual sekunder. Primary sexual merupakan karakteristik seksual yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi dan organ alat kelamin laki-laki maupun perempuan (genitalia). Secondary sexual adalah karakteristik seksual yang berupa tanda-tanda pertumbuhan organ seksual, seperti pada remaja putra ; tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja putri ; tumbuh rambut kemaluan, pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, mulai mengalami haid dan lain sebagainya.

Pada titik awal petumbuhan karakteristik seksual, secara psikologis usia dimulai pada masa usia remaja. Remaja adalah masa peralihan usia antara anak menuju dewasa yang interval waktunya berbeda-beda tergantung factor social dan budaya. Ciri-cirinya adalah mulai berfungsinya alat-alat reproduksi, libido mulai tumbuh, daya intelegensia mencapai puncak perkembangannya, frekuensi emosi masih sangat labil, rasa kesetikawanan yang kuat terhadap teman sebaya dan dikategorikan belum menikah.

Menurut WHO, definifi remaja adalah suatu masa dimana ;

1.        Individu yang berkembang dari saat pertama ia menunjukkan tand-tanda seksual sekunder sampai saat mencapai kematangan seksual

2.        Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa

3.        Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yan penuh dengan keadaan yang relative lebih mandiri.

Usia remaja berkisar antar 10 – 20 tahun, yang dibagi menjadi 2 fase yaitu remaja awal (berumur 10 – 14 tahun) dan remaja akhir (berumur 15 – 20 tahun). Menurut Sarlito, secara umum batasan umur remaja Indonesia antara 11 – 24, belum menikah dan dengan pertimbangan sebagai berikut ;

1.        Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak ( criteria fisik )

2.        Dibanyak masyarakat Indonesia usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh baik menurut adapt maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak ( criteria social )

3.        Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral ( criteria psikologik )

4.        Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimum yaitu untuk memberikan peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa ( secara adat/tradisi )

5.        Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting dimasyarakat secara menyeluruh. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa enuh baik secara hokum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah.

Seiring dengan proses pertumbuhan karakteristik seksual primer dan sekunder pada usia remaja menuju kematangan psikologis. Dari situ muncul juga hasrat dan dorongan untuk memenuhi atau menyalurkan keinginan seksualnya dikarenakan oleh dorongan secara alamiah manusia yang mempunyai ciri dan fungsi sebagai makhluk hidup untuk berkembangbiak dan mempertahankan keturunan. Naluri pemenuhan kebutuhan seksual bersifat fitrah dan suci, namun dalam proses pemenuhannya bisa ternodai kesuciannya jikalau tidak dilakukan dengan proses yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai normatif dan konstitusional.

4.2. Perilaku Seksual Remaja

Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang dimotivasi hasrat dan nafsu birahi seksual yang dilakukan seseorang, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Beraneka ragam bentuk-bentuk tingkah laku seksual yang sering dilakukan kalangan remaja dalam memenuhi hasrat seksual yang menyimpang, mulai dari perasaan tertarik (pacaran), berkencan, bercumbu dan bersenggama. Sedangkan obyek seksualnya bisa berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri.

Adapun berbagai perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;

1.      Masturbasi atau onani yaitu kebiasaan penyimpangan perilaku seksual dengan cara memanipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan nafsu birahi untuk memenuhi kenikmataan seksual, kebiasaan buruk ini seringkali menimbulkan goncangan psikologis remaja yang sering melakukannya.

2.      Pacaran, yaitu sebuah ekspresi perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja, yang dilakukan mulai dari sentuhan, pengangan tangan sampai ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang didasari memenuhi dorongan keinginan hasrat dan nafsu birahinya.

3.      Tindakan yang mengarah pada pemuasan kebutuhan seksual, seperti menonton video porno, mengkonsumsi gambar-gambar porno baik melalui internet maupun majalah, dan lain sebagainya.

Dalam buku Psikologi Remaja, Sarlito W. Sarwono menyatakan bahwa factor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja adalah sebagai berikut ;

1.      Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormone ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu

2.      Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hokum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan maupun karena norma social yang semakin lama semakin menuntut persyarakatan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

3.      Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut

4.      Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh ; VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam proses ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yan dilihat atau didengar dari media massa karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya

5.      Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuan maupun sikapya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka dengan anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan dalam masalah ini

6.      Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria

4.3. Pendidikan Seksual

Dorongan memenuhi hasrat nafsu birahi selalu muncul dikalangan remaja yang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dengan ditandai pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder dan perkembangan kematangan psikoseksualnya. Remaja yang tidak mampu mengendalikan atau mengontrol dorongan hasrat seksualnya tentu akan mencari sarana pemenuhan kebutuhan seksualnya meskipun menempuh jalan yang menyimpang. Oleh karena itu jika tidak ada penyaluran yang sesuai dengan nilai normative dan konstitusional (menikah), maka harus dilakukan upaya-upaya untuk memberikan pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, meliputi pertumbuhan organ alat genital, perkembangan psikoseksual remaja, dampak dan akibat penyimpangan seksual atau melakukan perilaku seksual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Menurut Sarlito, pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan. Selain menerangkan aspek-aspek anatomis, biologis dan psikologis. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan nilai-nilai agama sehingga akan merupakan proses pendidikan akhlak dan moral. Pendidikan seksual juga harus diberikan secara bertahap yang disesuaikan dengan pertumbuhan perkembangan umur dan daya tangkap anak. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, social dan kesusilaan ( Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987 ).

Dalam hal pendidikan seksual, idealnya diberikan sejak dini oleh orang tua dirumah ketika anak sudah mulai bertanya perbedaan kelamin antara dirinya dengan orang lain, yang diberikan secara bertahap dan berkesinambungan dengan disesuaikan pertumbuhan umur dan daya tangkap. Namun sayangnya di Indonesia, tidak sedikit orang tua yang mampu memberikan informasi dan pengetahuan seputar masalah seksualitas. Oleh karena itu, peran pendidikan formal maupun non formal sangatlah besar dan signifikan dalam memberikan pendidikan seksual dikalangan remaja.

Adapun tujuan pendidikan seksual dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;

1.        Memberikan informasi, pengertian dan pengetahuan yang memadai mengenai perubahan fisik dan psikis yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja

2.        Mendidik remaja mengetahui dan memahami peran, tuntutat dan tanggung jawab social-moral sehingga dapat mengurangi ketakutan atau kecemasan yang berkaitan dengan perkembangan dan penyesuaian kondisi psikoseksualnya.

3.        Memberikan pengertian mengenai seks dalam semua manifestasi yang beraneka ragam, yang sesuai dengan nilai norma agama dan kesusilaan

4.        Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral dan dasar rasional dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perilaku seksual.

5.        Memberikan pengetahuan mengenai kesalahan dan penyimpangan seksual agar remaja dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan fisik dan psikisny

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Seksualitas merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kebutuhan seksual yang dialami oleh orang dewasa merupakan kebutuhan seks yang mengalami penurunan fungsi organ reproduksi mengakibatkan kecanggungan dalam hubungan pasangan suami istri.

Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu mengalami atau beresiko mengalami perubahan kesehatan seksual

Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau beresiko mengalami perubahan fungsi seksual yang negatif yang di pandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.

5.2. Saran

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Oleh karena itu seksualitas pada orang dewasa sangat dibutuhkan dalam keharmonisan keluarga.

Daftar Pustaka

Alimul H, A.A. 2006. Pengantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta: salemba medika.

Potter dan perry. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Edisi 4 Jakarta: EGC.

Stevens, P.J.M, Bordui,F dan Van der Weyde, JAG. 1999. Ilmu keperawatan. Jilid 2 Jakarta: EGC.

Anonim,.2010. Pengertian seksualitas. http://blog.re.or.id/seksualitas.htm. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,2010. anatomi dan fisiologi sistem reproduksi. http://www.masrie.co.cc. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,.2010. Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk orang dewasa. http://muallimat.blogspot.com. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2010. seksualitas. seksualitasblog.blogspot.com/…/proses-keperawatan-seksualitas.html. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,2008. abnormalitas seksual.. http://muallimat.blogspot.com/2008/11. di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2008. rencana-asuhan-keperawatan. http://gwanakbstikes.blogspot.com. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2010. Alat genital pria dan wanita. http://id.wikipedia.7val.com/wiki/. Di akses pada januari 2011.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s