REGISTRASI DAN PRAKTEK KEPERAWATAN

…Anang Bongkeng…

  1. DEFINISI

Regulasi keperawatan (regristrasi & praktik keperawatan) adalah kebijakan atau ketentuan yang mengatur profesi keperawatan dalam melaksanakan tugas profesinya dan terkait dengan kewajiban dan hak.

Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah terdaftar diizinkan memakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran dengan nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus diperbaharui setiap satu atau dua tahun.

Undang – undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan diskusi para perawat. PPNI pada kongres Nasional keduanya di Surabaya tahun 1980 mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan perundang-undangan untuk perlindungan hukum bagi tenaga keperawatan.

Tidak adanya undang-undang perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih antara tugas dokter dan perawat masih sering terjadi dan beberapa perawat lulusan pendidikan tinggi merasa frustasi karena tidak adanya kejelasan tentang peran, fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga menyebabkan semua perawat dianggap sama pengetahuan dan ketrampilannya, tanpa memperhatikan latar belakang ilmiah yang mereka miliki.

  1. KLASIFIKASI

Dalam masa transisi professional keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktik dan registrasi sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi lulusan SPK, akademi, sarjana keperawatan maupun program master keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Pengaturan praktik perawat dilakukan melalui Kepmenkes nomor 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat, yaitu setiap perawat yang melakukan praktik di unit pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta diharuskan memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Izin Kerja (SIK). Pengawasan dan pembinaan terhadap praktik pribadi perawat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat Propinsi, Kabupaten sampai ke tingkat puskesmas. Pengawasan yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah (Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur) belum sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1239 tahun 2001.

  • SIP adalah suatu bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan diseluruh wilayah indonesia oleh departemen kesehatan.
  • SIK adalah bukti tertulis yang diberikan perawat untuk melakukan praktek keperawatan disarana pelayanan kesehatan.
  • SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik perwat perorangan atau bekelompok, Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah.

Standar profesi yaitu pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik.

  1. TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui masalah-masalah RUU praktik keperawatan.

  1. Mengetahui definisi dan tujuan praktik keperawatan
  2. Mengetahui pentingnya Undang-undang Praktik Keperawatan terkait dengan profesi
  3. Untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan
  4. Mengetahui isi Undang-Undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik keperawatan
  5. Mengetahui tugas pokok dan fungsi Keperawatan dalam RUU Keperawatan

Tujuan Praktik Keperawatan

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan system klien dan tenaga kesehatan lain dalam membrikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individual dan berkelompok.

Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.

  1. PENJELASAN

Aspek legal atau hukum, legal=sah, aspek legal dalam keperawatan =sah, perawat mempunyai hak & tindakan keperawatan yang sesuai dengan standar yang berlaku perlu ada ketetapan hukum yang mengatur hak & kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakannya perawat sebagai tenaga kesehatan diatur dalam:

1. UU No. 23 Tentang Kesehatan

2. PP Nomor 32 Tentang Tenaga Kesehatan

3. Perda Kab. Kudus No. 11 Tahun 2004 Tentang Retribusi Pelayanan Tenaga Kesehatan

4. SKB MENKES-KABKN NO.733-SKB-VI-2002 NO.10 th 2002 Tentang Jabatan

5. UU No. 43 Th. 1999 Tentang POKOK2 KEPEGAWAIAN

6. PERPRES No. 54 Th. 2007 Tentang Tunjangan Fungsional Tenaga Kesehata

7. PERPRES No. 26 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Struktural

8. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Kenaikan Pangkat PNS

9. PP No. 13 Tahun 2002 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jab. Struktural

10. PP No. 13 Tahun 2007 Tentang Penetapan Pensiun Pokok

11. PP No. 43 Tahun 2007 Tentang PHD Menjadi PNS

12. PP No. 099 Tahun 2000 Tentang Kenaikan Pangkat PN

13. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Perubahan PP 99 Th 2000 Kenaikan Pangkat PNS

14. PP Nomor 09 Tahun 2003 Tentang Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS

15. KEPMENPAN No. 138 Tahun 2002 Tentang Penghargaan Pegawai Negeri Sipil

  1. Pentingnya Undang-Undang Praktik Keperawatan.

Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan dibutuhkan.

Pertama, alasan filosofi. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan. Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum.

Kedua, alasan yuridis. UUD 1945, pasal 5, menyebutkan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Demikian Juga UU Nomor 23 tahun 1992, Pasal 32, secara eksplisit menyebutkan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan, hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Sedang pasal 53, menyebutkan bahwa tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.

Ketiga, alasan sosiologis. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan semakin meningkat. Hal ini karena adanya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan, dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan, ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996).

Keperawatan merupakan salah satu profesi dalam dunia kesehatan . Sebagai profesi, tentunya pelayanan yang diberikan harus professional, sehingga perawat/ners harus memiliki kompetensi dan memenuhi standar praktik keperawatan, serta memperhatikan kode etik dan moral profesi agar masyarakat menerima pelayanan dan asuhan keperwatan yang bemutu. Tetapi bila kita lihat realita yang ada, dunia keprawatan di Indonesia sangat memprihatinkan .Fenomene “gray area” pada berbagai jenis dan jenjang keperawatan yang ada maupun dengan profesi kesehatan lainnya masih sulit dihindari.

  1. PPNI mendorong disahkannya Undang-Undang Praktik Keperawatan

Dalam peringatan Hari Perawat Sedunia ini Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) lebih mendorong disahkannya Undang-Undang Praktik Keperawatan. Hal ini karena pertama, Keperawatan sebagai profesi memiliki karateristik yaitu, adanya kelompok pengetahuan (body of knowledge) yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikan masalah dalam tatanan praktik keperawatan; pendidikan yang memenuhi standar dan diselenggarakan di Perguruan Tinggi; pengendalian terhadap standar praktik; bertanggungjawab dan bertanggungugat terhadap tindakan yang dilakukan; memilih profesi keperawatan sebagai karir seumur hidup, dan; memperoleh pengakuan masyarakat karena fungsi mandiri dan kewenangan penuh untuk melakukan pelayanan dan asuhan keperawatan yang beriorientasi pada kebutuhan sistem klien (individu, keluarga, kelompok dan komunitas. Kedua, kewenangan penuh untuk bekerja sesuai dengan keilmuan keperawatan yang dipelajari dalam suatu sistem pendidikan keperawatan yang formal dan terstandar menuntut perawat untuk akuntabel terhadap keputusan dan tindakan yang dilakukannya.

Kewenangan yang dimiliki berimplikasi terhadap kesediaan untuk digugat, apabila perawat tidak bekerja sesuai standar dan kode etik. Oleh karena itu, perlu diatur sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi yang ditetapkan dengan peraturan dan perundang-undangan. Sistem ini akan melindungi masyarakat dari praktik perawat yang tidak kompeten, karena Konsil Keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam Undang Undang Praktik Keperawatan akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan melalui uji kompetensi akan membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi perawat yang mempunyai pengetahuan yang dipersyaratkan untuk praktik. Sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi ini akan meyakinkan masyarakat bahwa perawat yang melakukan praktik keperawatan mempunyai pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja sesuai standar. Ketiga, perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan.

Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum. Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan dan kesesuaian interprofesional (WHO, 2002).

Undang-Undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik keperawatan.

  1. UU No. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan
    Bab II (Tugas Pemerintah), pasal 10 antara lain menyebutkan bahwa pemerintah mengatur kedudukan hukum, wewenang dan kesanggupan hukum.
  2. UU No. 6 tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan.
    UU ini merupakan penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960. UU ini membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana. Tenaga sarjana meliputi dokter, dokter gigi dan apoteker. Tenaga perawat termasuk dalam tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan rendah, termasuk bidan dan asisten farmasi dimana dalam menjalankan tugas dibawah pengawasan dokter, dokter gigi dan apoteker. Pada keadaan tertentu kepada tenaga pendidikan rendah dapat diberikan kewenangan terbatas untuk menjalankan pekerjaannya tanpa pengawasan langsung.
  3. UU Kesehatan No. 14 tahun 1964, tentang Wajib Kerja Paramedis.
    Pada pasal 2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah wajib menjalankan wajib kerja pada pemerintah selama 3 tahun.
    Dalam pasal 3 dijelaskan bahwa selama bekerja pada pemerintah, tenaga kesehatan yang dimaksud pada pasaal 2 memiliki kedudukan sebagai pegawai negeri sehingga peraturan-peraturan pegawai negeri juga diberlakukan terhadapnya.

UU ini untuk saat ini sudah tidak sesuai dengan kemampuan pemerintah dalam mengangkat pegawai negeri. Penatalaksanaan wajib kerja juga tidak jelas dalam UU tersebut sebagai contoh bagaimana sistem rekruitmen calon peserta wajib kerja, apa sangsinya bila seseorang tidak menjalankan wajib kerja dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan bahwa dalam UU ini, lagi posisi perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga kesehatan akademis termasuk dokter, sehingga dari aspek profesionalisasian, perawat rasanya masih jauh dari kewenangan tanggung jawab terhadap pelayanannya sendiri.

  1. SK Menkes No. 262/Per/VII/1979 tahun 1979
    Membedakan paramedis menjadi dua golongan yaitu paramedis keperawatan (temasuk bidan) dan paramedis non keperawatan. Dari aspek hukum, suatu hal yang perlu dicatat disini bahwa tenaga bidan tidak lagi terpisah tetapi juga termasuk katagori tenaga keperawatan.
  2. Permenkes. No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980
    Pemerintah membuat suatu pernyataan yang jelas perbedaan antara tenaga keperawaan dan bidan. Bidan seperti halnya dokter, diijinkan mengadakan praktik swasta, sedangkan tenaga keperawatan secara resmi tidak diijinkan. Dokter dapat membuka praktik swasta untuk mengobati orang sakit dan bidang dapat menolong persalinan dan pelayanan KB. Peraturan ini boleh dikatakan kurang relevan atau adil bagi profesi keperawatan. Kita ketahui negara lain perawat diijinkan membuka praktik swasta. Dalam bidang kuratif banyak perawat harus menggatikan atau mengisi kekurangan tenaga dokter untuk menegakkan penyakit dan mengobati terutama dipuskesmas-puskesma tetapi secara hukum hal tersebut tidak dilindungi terutama bagi perawat yang memperpanjang pelayanan di rumah. Bila memang secara resmi tidak diakui, maka seyogyanya perawat harus dibebaskan dari pelayanan kuratif atau pengobatan utnuk benar-benar melakukan nursing care.
  1. SK Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 94/Menpan/1986, tanggal 4 November 1986, tentang jabatan fungsional tenaga keperawatan dan sistem kredit point.
    Dalam sisitem ini dijelaskan bahwa tenaga keperawatan dapat naik jabatannya atau naik pangkatnya setiap dua tahun bila memenuhi angka kredit tertentu. Dalam SK ini, tenaga keperawatan yang dimaksud adalah : Penyenang Kesehatan, yang sudah mencapai golingan II/a, Pengatur Rawat/Perawat Kesehatan/Bidan, Sarjana Muda/D III Keperawatan dan Sarjana/S1 Keperawatan. Sistem ini menguntungkan perawat, karena dapat naik pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/golongan atasannya.
  2. UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992.
    Merupakan UU yang banyak memberi kesempatan bagi perkembangan termasuk praktik keperawatan profesional karena dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak-hak pasien, kewenangan,maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan.
    Beberapa pernyataaan UU Kes. No. 23 Th. 1992 yang dapat dipakai sebagai acuan pembuatan UU Praktik Keperawatan adalah :
    Pasal 53 ayat 4 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
    Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melaksanakan kegiatan sesuai dengan bidang keahlian dan kewenangannya
    Pasal 53 ayat 4 menyatakan tentang hak untuk mendapat perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan.
  1. Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk :
  • Memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan.
  • Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
  • Mendorong para pengambil kebijakan dan elemen-elemen yang terkait lainnya untuk memberikan perhatian dan dukungan pada model praktik keperawatan komunitas.
  • Mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat memberikan jaminan pada penyelenggaraan praktik keperawatan komunitas yang profesional.
  • Mendorong terbentuknya sistem monitoring dan evaluasi yang efisien dan efektif.
  1. Lingkup praktik keperawatan meliputi :
  • Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.
  • Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien.
  • Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan tatanan lainnya.
  • Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat/resep.
  • Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter.
  1. Terkait dengan Tindakan Medik:
  1. Menetapkan diagnosis penyakit (92.6%)
  2. Membuat resep obat (93.1%)
  3. Memperlakukan tindakan pengobataban di dalam maupun luar gedung puskesmas (97.1%)
  4. Memperlakukan pemeriksaan kehamilan (70.1%) dalam melakukan pertolongan persalinan (57,7).
  1. TATA HUKUM DI INDONESIA

UUD 1945 Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum (Rechstaat) dan tidak berdasarkan pada kekuasaan belaka (Machstaat). Sumber hukum antara lain UUD 1945,Tap MPR, UU/Peraturan pengganti UU, PP, Kepres, Permenkes/Kepmenkes, dan peraturan lainnya.

  1. Fungsi Hukum dalam praktek perawat
  1. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum.
  2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.
  3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri.
  4. Membantu mempertahankan standart praktik keperwatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
  1. Tanggung Jawab Hukum

Melaksanakan keperawatan mandiri ataun yang didelegasi. Pasal Krusial dalam Kepmenkes 1239/2001tentang praktek keperawatan :

  1. Melakukan asuan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
  2. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter.
  3. Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban : Menghormati hak pasien, merujuk kasus yang tidak dapat ditangani, menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, memberikan informasi, meminta persetujuan tindakan yang dilakukan, melakukan catatan perawatan dengan baik.
  4. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang, perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
  5. Perawat yang menjalankan praktek perorangan harus mencantumkan SIPP diruang prakteknya.
  1. Perawat yang menjalakan praktek perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktek (sedang dalam proses amandemen).
  1. Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah.
  1. Persyaratan praktek perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
  • Tempat praktek memenuhi syarat.
  • Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir/buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
  1. Tugas Pokok dan Fungsi Keperawatan Dalam RUU Keperawatan:
  1. Fungsi Keperawatan. Pengaturan, pengesahan serta penetapan kompetensi perawat yang menjalankan praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
  2. Tugas Keperawatan.
  1. Melakukan uji kompetensi dalam registrasi keperwatan.
  2. Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktik keperwatan untuk melindungi masyarakat

Wewenang.

  1. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi keperawatan.
  2. Mengesahkan standar kompetensi perawat yang dibuat oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi institusi pendididkan keperawatan.
  3. Menetapkan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan oleh perawat.
  4. Menetapkan sanksi terhadap kesalahan praktik yang dilakukan oeh perawat.
  5. Menetapkan penyelenggaraan program pendidikan keperawatan.
  1. Larangan-larangan bagi perawat :
  1. Perawat dilarang menjalankan praktek selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi.
  2. Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini.
  3. Kepala Dinas atau Organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran.
  4. Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
  5. Sebelum SIK dan SIPP dicabut Kepala Dinas Kesehatan terlebih dahulu pendengar pertimbangan dari MDTK dan MP2EM.
  1. Sanksi-sanksi yang dapat diberikan :
  1. Pelanggaran ringan, pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan.
  2. Pelanggaran sedang, pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan.
  3. Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun.
  4. Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat.
  1. Implikasi dalam Tatanan Praktek

Sebagai tenaga perawat rumah sakit dan puskesmas atau tenaga kesehatan dilembaga kesehatan lainnya. “Perawat bekerja dan melakukan kewajiban sesuai dengan perintah jabatan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerugian atau kesalahan yang dilakukan” KUHP pasal 51″.

  1. Praktek Mandiri Perawat Kepmenkes 1239
  1. SIP dan SIPP harus ada.
  2. Ruangan praktek sesuai ketentuan.
  3. Tersedia alat perawatan, alat rumah tangga dan alat emergency sesuai ketentuan.
  4. Kewenangan : Pemenuhan kebutuhan O2, Nutrisi, integritas jaringan, cairan dan elektrolit, eliminasi, personal hygiene, istirahat tidur, obat-obatan, sirkulasi, keamanan dan keselamatan, manajemen nyeri, kebutuhan aktivitas, psiko sosial, interaksi sosial, menjelang ajal, seksual, lingkungan sehat, kebutuha bumil, ibu melahirkan, bayi baru lahir,post partum, dan lain-lain.
  1. Dalam fase transisi tindakan medik dilakukan :
  1. Algoritme klinik untuk perawat yang bekerja di puskesmas.
  2. Balai pengobatan dibawah pengawasan dokter.
  3. Berbagai sarana kesehatan dalam praktek mandiri : delegasi tertulis dan delegasi lisan.
  4. Kewenangan atributif (harus terdapt dalam UUPK).
  5. Amandemen Kepmenkes 1239/2001 : Papan nama harus dipasang, kewenangan atributif, uji kompetensi.
  1. RUU Praktek Keperawatan :
  1. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
  2. Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan.

Tujuan UPPKep

Pengaturan penyelenggaraan praktek keperawatan bertujuan untuk :

Memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan.

Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.

Lingkup Praktek Keperawatan

Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan dan kompleks.

Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah keperawatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien.

Memberikan pelayanan keperawatan disarana kesehatan dan tatanan lainnya.

Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat.

Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter.

Konsil Keperawatan Indonesia

Dalam rangka pengaturan penyelenggaraan praktek keperawatan maka dibentuk konsil keperawatan Indonesia dalam hal ini konsil keperawatan mempunyai tugas yaitu:

Melakukan uji kompetensi dan registrasi perawat.

Mengesahkan standart-standart profesi yang dibuat oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.

  1. Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktek perawat untuk melindungi masyarakat.

WEWENANG KONSIL INDONESIA

Konsil keperawatan Indonesia mempunyai wewenang yaitu:

  1. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi perawat.
  2. Mengesahkan standar kompetensi perawat yang dibuat oleh organisasi profesii keperawatan dan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.
  3. Menetapkan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan perawat.
  4. Menetapkan sanksi terhadap kesalahan praktik yang dilakukan perawat.
  5. Menetapkan standar penyelenggaraan program.

PRAKTIK MANDIRI

Praktek mandiri dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok, perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan yang telah ditentukan yaitu:

  1. Memiliki tempat praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan.
  2. Memenuhi perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan di luar institusi pelayanan kesehatan termasuk kunjungan rumah.
  3. Memiliki perlengkapan administrasi yang meliputi buku catatan kunjungan, formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan.
  4. Persyaratan perlengkapan, sesuai dengan standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.
  5. Perawat yang telah mempunyai SIPP dan menyelenggarakan praktek mandiri wajib memasang papan nama keperawatan
PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN

Praktik keperawatan dilakukan berdasarkan pada kesepakatan antara perawat dengan klien dan atau pasien dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit pemeliharaan kesehatan, kuratif dan pemulihan kesehatan. Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat professional (RN) dan perawat vokasional (PN).

PN dalam melaksanakan tindakan keperawatan dibawah pengawasan RN selain itu, perawat dapat mendelegasikan atau menyerahkan tugas kepada perawat lain yang setara kompetensi dan pengalamannya. Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPP dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan.

Kesimpulan

  1. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan akan digunakan untuk mendorong berbagai pihak mengesahkan Rancangan Undang-Undang Praktik keperawatan.
  2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menganggap bahwa keberadaan Undang-Undang akan memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat terhadap pelayanan keperawatan dan profesi perawat.
  3. Indonesia, Laos dan Vietnam adalah tiga Negara ASEAN yang belum memiliki Undang-Undang Praktik Keperawatan. Padahal, Indonesia memproduksi tenaga perawat dalam jumlah besar.
  4. Perawat Indonesia dinilai belum bisa bersaing ditingkat global.
  5. Undang Undang Praktik Keperawatan, terlalu terlambat untuk disahkan, apalagi untuk dipertanyakan. Sementara negara negara ASEAN seperti Philippines, Thailand, Singapore, Malaysia, sudah memiliki Undang- Undang Praktik Keperawatan (Nursing Practice Acts) sejak puluhan tahun yang lalu.
  6. Tidak adanya undang-undang perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan.
  7. Konsil keperawatan bertujuan untuk melindungi masyarakat, menentukan siapa yang boleh menjadi anggota komunitas profesi (mekanisme registrasi), menjaga kualitas pelayanan dan memberikan sangsi atas anggota profesi yang melanggar norma profesi (mekanisme pendisiplinan).
  8. RUU Praktik Perawat, selain mengatur kualifikasi dan kompetensi serta pengakuan profesi perawat, kesejahteraan perawat, juga diharapkan dapat lebih menjamin perlindungan kepada pemberi dan penerima layanan kesehatan di Indonesia

GIZI REMAJA

Posted: 23 Januari 2011 in GIZI

GIZI REMAJA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tubuh yang berubah cepat pada masa remaja membutuhkan masukan energi,protein dan vitamin dalam jumlah besar. Energi diperlukan sebagai sumber tenaga sel-sel tubuh yang bekerja lebih keras untuk berkembang dan berubah cepat.

Energi ini diperoleh dari kebanyakan biji-bijian seperti beras, jagung, kentang, dan bahan makanan lain yang mengandung karbohidrat.
Nasi, bubur, jagung, roti, biskuit, adalah makanan olahan bibi-bijian yang menyumbang energi paling banyak bagi tubuh kita.Karena itu makanan ini menjadi makanan pokok bagi tubuh kita.Karbohidrat adalah bahan bakar bagi tubuh kita.

Protein diperlukan sel untuk membangun diri dan berkembang.Tanpa protein pertumbuhan tidak dapat berlangsung sempurna.Protein didapat dari hewan dan pertumbuhan.Protein yang didapat dari hewan disebut protein hewani,dan protein yang didapat dari tumbuhan disebut protein nabati.
Vitamin dan mineral diperlukan oleh tubuh sbg zat pengatur.Sel-sel tubuh membutuhkan vitamin dan mineral untuk metabolisme sel.
Tanpa vitamin dan miniral,sel-sel tubuh tdk dapat bekerja dg baik.Sel-sel lensa mata, misalnya,tdk dapat menyesuaikan fokus dengan baik apabila kekurangan vitamin A.

Tanpa vitamin C metabolisme tubuh dapat terganggu dan menjadi mudah terserang penyakit. Agar kebutuhan gizi ini terpenuhi,kita perlu makan makanan dg gizi seimbang supaya cerdas.
Makanan dg gizi seimbang terdiri dari karbohidrat sbg pemasok tenaga,protein sbg zat pembangun dan vitamin serta mineral sbg zat pengatur.Inilah yg disebut sbg makanan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari membuat makalah adalah :

1.      Menjelaskan, memberitahukan pengertian gizi .

2.      Pentingnya gizi seimbang yang diperlukan oleh remaja.

3.      Menanamkan gaya hidup sehat kepada Remaja agar mencegah timbulnya penyakit-penyakit pada gizi remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Gizi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.

Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat.

Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.

Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.

Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.

2.2.  Prinsip Gizi Pada Remaja

Masa remaja merupakan saat terjadinya perubahan-perubahan cepat dalam proses pertumbuhan fisik, kognitif dan psikososial. Pada masa ini terjadi kematangan seksual dan tercapainya bentuk dewasa karena pematangan fungsi endokrin. Pada saat proses pematangan fisik, juga terjadi perubahan komposisi tubuh.

Periode Adolesensia ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (Growth Spurt) baik tinggi badannnya maupun berat badannya. Pada periode growth spurt, kebutuhan zat gizi tinggi karena berhubungan dengan besarnya tubuh.

Growth Spurt :

- Anak perempuan : antara 10 dan 12 tahun

- Anak laki-laki : umur 12 sampai 14 tahun.

Permulaan growth spurt pada anak tidak selalu pada umur yang sama melainkan tergantung individualnya. Pertumbuhan yang cepat biasanya diiringi oleh pertumbuhan aktivitas fisik sehingga kebutuhan zat gizi akan naik pula.

Penyelidikan membuktikan bahwa apabila manusia sudah mencapai usia lebih dari 20 tahun, maka pertumbuhan tubuhnya sama sekali sudah terhenti. Ini berarti, makanan tidak lagi berfungsi untuk pertumbuhan tubuh, tetapi untuk mempertahankan keadaan gizi yang sudah didapat atau membuat gizinya menjadi lebih baik. Dengan demikian, kebutuhan akan unsure-unsur gizi dalam masa dewasa sudah agak konstan, kecuali jika terjadi kelainan-kelainan pada tubuhnya, seperti sakit dan sebagainya. Sehingga mengharuskandia mendapatkan kebutuhan zat gizi yang lebih dari biasanya.

2.3. Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Remaja

Faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja dan :

Ø  Kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan tentang zat gizi.

Ø  Pekerjaan

Data terbaru dari kesehatan nasional dan survey pengujian ilmu gizi (NHNES) menyatakan bahwa konsumsi energi wanita dari umur 11 sampai 51 tahun bervariasai, dari kalori yang rendah (sekitar 1329) sampai kalori yang tinggi (1958 kalori).

Konsumsi makanan wanita perlu mempertimbangkan kadar lemak kurang dari 30 % dan tinggi kalsium sekitar 800-1200 mg/ hari. Rata-rata RDA kebutuhan kalsium 1000 mg. selain itu, wanita juga harus memperhatikan unsur sodium, cara pengolahan makanan dan para wanita perlu membatasi makanan kaleng atau makanan dalam kotak.

2.4.  Kebutuhan Gizi Seimbang

Pada anak remaja kudapan berkontribusi 30 % atau lebih dari total asupan kalori remaja setiap hari. Tetapi kudapan ini sering mengandung tinggi lemak, gula dan natrium dan dapat meningkatkan resiko kegemukan dan karies gigi. Oleh karena itu, remaja harus didorong untuk lebih memilih kudapan yang sehat. Bagi remaja, makanan merupakan suatu kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Kekurangan konsumsi makanan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, akan menyebabkan metabolisme tubuh terganggu.

Kecukupan gizi merupakan kesesuaian baik dalam hal kualitas maupun kuantitas zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan faali tubuh.

Kebutuhan energi diperlukan untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk proses metabolisme tubuh. Cara sederhana untuk mengetahui kecukupan energi dapat dilihat dari berat badan seseorang. Pada remaja perempuan 10-12 tahun kebutuham energinya 50-60 kal/kg BB/ hari dan usia 13-18 tahun sebesar 40-50 kal/ kg BB/ hari.

Kebutuhan protein meningkat karena proses tumbuh kembang berlangsung cepat. Apabila asupan energi terbatas/ kurang, protein akan dipergunakan sebagai energi.

Kebutuhan protein usia 10-12 tahun adalah 50 g/ hari, 13-15 tahun sebesar 57 g/ hari dan usia 16-18 tahun adalah 55 g/ hari. Sumber protein terdapat dalam daging, jeroan, ikan, keju, kerang dan udang (hewani). Sedangkan protein nabati pada kacang-kacangan, tempe dan tahu.

Lemak dapat diperoleh dari daging berlemak, jerohan dan sebagainya. Kelebihan lemak akan disimpan oleh tubuh sebagai lemak tubuh yang sewaktu- waktu diperlukan. Departemen Kesehatan RI menganjurkan konsumsi lemak dibatasi tidak melebihi 25 % dari total energi per hari, atau paling banyak 3 sendok makan minyak goreng untuk memasak makanan sehari. Asupan lemak yang terlalu rendah juga mengakibatkan energi yang dikonsumsi tidak mencukupi, karena 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. Pembatasan lemak hewani dapat mengakibatkan asupan Fe dan Zn juga rendah.

Kebutuhan vitamin dan mineral pada saat ini juga meningkat. Golongan vitamin B yaitu vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin) maupun niasin diperlukan dalam metabolisme energi. Zat gizi yang berperan dalam metabolisme asam nukleat yaitu asam folat dan vitamin B12. Vitamin D diperlukan dalam pertumbuhan kerangka tubuh/ tulang. Selain itu, agar sel dan jaringan baru terpelihara dengan baik, maka kebutuhan vitamin A, C dan E juga diperlukan.

Kekurangan Fe/ zat besi dalam makanan sehari-hari dapat menimbulkan kekurangan darah yang dikenal dengan anemia gizi besi (AGB). Makanan sumber zat besi adalah sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging. Fe lebih baik dikonsumsi bersama dengan vitamin C, karena akan lebih mudah terabsorsi.

2.5.  Pengaruh Status Gizi Pada Sistem Reproduksi

Kebutuhan energi dan nutrisi dipengaruhi oleh usia reproduksi, tingkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan. Kekurangan nutrisi pada seorang yang mengalami anemia dan kurang berat badan lebih banyak akan melahirkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah) dibandingkan dengan wanita dengan usia reproduksi yang aman untuk hamil.

2.6   Gizi Remaja Menuju Reproduksi Sehat

Remaja wanita 15 – 21 tahun kedudukannya sangat penting karena merupakan persiapan calon ibu.

Keadaan kesehatan remaja, erat hubungannya dengan gizi. Kegemukan, kurang energi kronis, dan anemia merupakan tiga masalah gizi pada usia ini.

Pubertas dan Status Gizi,Pubertas (akil balik) adalah suatu masa pematangan kapasitas reproduksi. Pada anak perempuan ditandai dengan. menstruasi, cepat lambatnya seseorang mengalami pubertas antara lain dipengaruhi oleh keadaan gizi. Seorang anak yang gizinya baik akan lebih cepat mengalami masa pubertas, sebaliknya anak yang gizinya kurang baik akan terlambat akil baliknya. Menarche, tidak ada ketentuan secara tepat kapan mulai akan terjadi periode yang pertama kali, namun hal ini akan terjadi antara usia 10 – 14 tahun, tapi sedikit lebih awal atau lebih lambat tidak semua anak sama. Pada remaja energi dan protein dibutuhkan lebih banyak daripada orang dewasa, demikian pula vitamin dan mineral. Vitamin B1, B2 dan B6 sangat penting untuk metabolisme karbohidrat menjadi energi. Demikian pula asam folat dan vitamin B12 untuk pembentukan sel darah merah, dan vitamin A untuk pertumbuhan yang diperlukan oleh jaringan.

2.7  Masalah Gizi pada Remaja

2.7.1 Obesitas

Walaupun kebutuhan energi dan zat-zat gizi lebih besar pada remaja daripada dewasa, tetapi ada sebagian remaja yang makannya terlalu banyak melebihi kebutuhannya sehingga menjadi gemuk. Aktif berolah raga dan melakukan pengaturan makan adalah cara untuk menurunkan berat badan. Diet tinggi serat sangat sesuai untuk para remaja yang sedang melakukan penurunan berat badan. Pada umumnya makanan yang serat tinggi mengandung sedikit energi, dengan demikian dapat membantu menurunkan berat badan, disamping itu serat dapat menimbulkan rasa kenyang sehingga dapat menghindari ngemil makanan/kue-kue.

2.7.2 Kurang Energi Kronis

Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis tidak selalu berupa akibat terlalu banyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya adalah karena makan terlalu sedikit. Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis erat hubungannya dengan faktor emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang lawan jenis kurang seksi.

2.7.3 Anemia

Anemia karena kurang zat besi adalah masalah yang paling umum dijumpai terutama pada perempuan. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah, dikonversi menjadi hemoglobin, beredar ke seluruh jaringan tubuh, berfungsi sebagai pembawa oksigen.
Remaja perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi daripada laki-laki. Agar zat besi yang diabsorbsi lebih banyak tersedia oleh tubuh, maka diperlukan bahan makanan yang berkualitas tinggi. Seperti pada daging, hati, ikan, ayam, selain itu bahan maknan yang tinggi vitamin C membantu penyerapan zat besi.

2.8. Pendidikan Gizi Pada Remaja Dan Dewasa

Pendidikan gizi pada remaja dan dewasa diperlukan untuk mencapai status gizi yang baik dan berperilaku gizi yang baik dan benar. Adapun pesan dasar gizi seimbang yang diuraikan oleh Depkes adalah:

2.8.1 Makanlah aneka ragam makanan.

Tidak satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Makan makanan yang mengandung unsur-unsur gizi yang diperlukan oleh tubuh baik kualitas maupun kuantitas. Jadi, mengonsumsi makanan yang beraneka ragam menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

2.8.2 Makanlah makanan untuk mencukupi kecukupan energi.

Setiap orang dianjurkan untuk memenuhi makanan yanng cukup kalori (energi) agar dapat hidup dan beraktivitas sehari-hari. Kelebihan konsumsi kalori akan ditimbun sebagai cadangan didalam tubuh yang berbentuk jaringan lemak.

2.8.3 Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.

Ada dua kelompok karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan sederhana. Proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat kompleks berlangsung lebih lama daripada yang sederhana. Konsumsi karbohidrat kompleks sebaiknya dibatasi 50% saja dari kebutuhan energi sehingga tubuh dapat memenuhi sumber zat pembangun dan pengatur.

2.8.4 Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kecukupan energi.

Lemak dan minyak yang terdapat dalam makanan berguna untuk meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin (A, D, E dan K) serta menambah lezatnya hidangan. Mengonsumsi lemak dan minyak secara berlebihan akan mengurangi konsumsi makanan lain.

2.8.5 Gunakan garam beryodium.

Kekurangan garam beryodium dapat mengakibatkan terjadinya penyebab penyakit gondok.

2.8.6 Makanlah makanan sumber zat besi.

Zat besi adalah unsur penting untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan zat besi berakibat anamia gizi besi (AGB), terutama diderita oleh wanita hamil, wanita menyusui dan wanita usia subur.

2.8.7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya.

ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena mempunyai kelebihan yang meliputi 3 aspek baik aspek gizi, aspek kekebalan dan kejiwaan.

2.8.8 Biasakan makan pagi.

Bagi remaja dan dewasa makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik, daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi belajar dan meningkatkan produktivitas kerja.

2.8.9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya.

Aman berarti bersih dan bebas kuman.

2.8.10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.

Dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan.

2.8.11. Hindari minum minuman beralkohol.

Sering minum minuman beralkohol akan sering BAK sehingga menimbukan rasa haus. Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak mengandung zat lain.

2.8.12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.

Selain harus bergizi lengkap dan seimbang, makanan harus layak dikonsumsi sehingga aman untuk kesehatan. Makanan yang aman yaitu bebas dari kuman dan bahan kimia dan halal. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

2.9 Penilaian Status Gizi Pada Remaja

Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

A.      Usia

Usia sangat berperan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah  adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang  mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur  adalah  dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).

B.       Berat Badan

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan  yang menurun. Berat badan ini  dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan  berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).

C.       Tinggi Badan

Tinggi badan memberikan gambaran  fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan  kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan  sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan  keadaan   berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga  indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi  Badan)  jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya  hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).

Berat badan dan tinggi badan   adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).

Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan  keadaan gizi kurang bila  dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius  dan berhubungan langsung dengan  angka kesakitan.

Tabel 1 Penilaian  Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS

No Indeks yang dipakai Batas Pengelompokan Sebutan Status Gizi
1 BB/U < -3 SD Gizi buruk
- 3 s/d  <-2 SD Gizi kurang
- 2 s/d +2 SD Gizi baik
> +2 SD Gizi lebih
2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek
- 3 s/d  <-2 SD Pendek
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi
3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus
- 3 s/d  <-2 SD Kurus
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk

Sumber : Depkes RI 2004.

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan “presentil”, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)

No Indeks yang di gunakan Interpretasi
BB/U TB/U BB/TB
1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi
Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++
Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +
2 Normal Normal Normal Normal
Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang
Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang
3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal
Tinggi Rendah Tinggi Obese
Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :Rendah   : < – 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Normal   : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Tinggi    :  > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

 

Sumber : Depkes RI 2004.

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan  mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan,  hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000  oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan  gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.

BAB III

PENUTUP

3.1.            Kesimpulan

Kesimpulan status gizi pada remaja di Indonesia yaitu kurang zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak), kurang zat gizi mikro (vitamin, mineral). Kurang zat gizi makro dan mikro menyebabkan tubuh menjadi kurus dan BB turun drastis, pendek, anemia, sakit terus menerus. Remaja rentan mengalami kurang gizi pada periode puncak tumbuh kembang kembang yang kedua kurang asupan zat gizi karena pola makan yang salah, Remaja yang kurang gizi tidak dapat mencapai status gizi yang optimal (kurus, pendek dan pertumbuhan tulang tidak proporsional ). Kurang zat besi & gizi lain yang penting untuk tumbuh kembang (zinc), sering sakit-sakitan. Dari kedua masalah status gizi remaja putri tersebut, diperlukan upaya peningkatan status gizinya, karena remaja membutuhkan zat gizi untuk tumbuh kembang yang optimal dan remaja perlu suplementasi gizi guna meningkatkan status gizi dan kesehatannya.

3.2.      Saran

Remaja membutuhkan Suplementasi Iron /zat besi & Zinc/seng yang cukup, karena remaja yang anemia/rentan kurang zinc (sumber zat besi & Zn hampir mirip yaitu sumber hewani seperti daging, produk laut & sumber nabati seperti kacang-kacangan), remaja (membutuhkan zat besi & Zn untuk tumbuh kembang), pemberian zat besi (mengobati remaja yang anemia, pemberian zinc(meningkatkan pembentukan sel-sel baru, pemberian Iron & zinc (meningkatkan status besi & Zn/meningkatkan tumbuh kembang dan kesehatan).
Tujuan peberian suplementasi, meningkatkan status gizi & kesehatan remaja yang anemia, melihat efek suplementasi pada peningkatan kadar HB & zat besi & zinc dalam darah melihat efek suplementasi pada penurunan kejadian sakit, melihat efek suplementasi pada peningkatan berat badan, tinggi badan, Indeks Masa Tumbuh (IMT).

DAFTAR PUSTAKA

1.      www.ebookf.com

2.      Html. kafeilmu.co.cc/tema/pengertian-gizi-baik-gizi-buruk.

3. Suhardjo. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius

4. www.gizi.net

5.      http://memeichan.blogspot.com

6. www.pom.go.id

7.      http://www.depkes.go.id/



Kebutuhan sexsual

Posted: 22 Januari 2011 in KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

KEBUTUHAN SEXSUALITAS

(disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah kebutuhan dasar manusia)

 

Di susun Oleh Kelompok :


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN ( SEMESTER 3 KARYAWAN B )

Jl. Tanjung Sukur No. 10 Sumanding Wetan Banjar Telp. (0265) 741100

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual. Seksualitas merupakan aspek yang sering di bicarakan dari bagian personalitas total manusia, dan berkembang terus dari mulai lahir sampai kematian. Banyak elemen-elemen yang terkait dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut termasuk elemen biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks sekundernya dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan psikososial laki-laki dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya.

Perkembangan seks manusia berbeda dengan binatang dan bersifat kompleks. Jika pada binatang seks hanya untuk kepentingan mempertahankan generasi atau keturunan dan dilakukan pada musim tertentu dan berdasarkan dorongan insting. Pada manusia seksual berkaitan dengan biologis, fisiologis, psikologis, sosial dan norma yang berlaku. Hubungan seks manusia dapat dikatakan bersifat sacral dan mulia sehingga secara wajar hanya dibenarkan dalam ikatan perkawinan. Jika hubungan seks binatang dapat dilakukan di sembarang tempat, tidak demikian halnya manusia, karena dalam melakukan hubungan seks diperlukan tempat yang layak, sesuai dengan norma tertentu dan didahului oleh satu permainan yang mengasyikkan. Pertumbuhan dan perkembangan seks manusia sesuai dengan makin bertambahnya umur dan dimulai sejenak kelahirannya.

1.2. Tujuan Penulisan

Maksud makalah ini adalah dalam rangka sebagai bahan masukan untuk substansi materi muatan kebutuhan dasar manusia. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keperawatan secara umum, mencakup pengertian dasar, ilmu keperawatan, kebutuhan seksual, masalah terkait dengan keperawatan. Diharapkan, makalah ini dapat memberikan penjelasan terutama tentang kebutuhan dasar manusia di dalam kebutuhan seksual.

1.3. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang diterapkan dalam penyusunan naskah akademis ini melalui;

a.         Pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memperhatikan norma – norma atau nilai-nilai yang ada dan berkembang dimasyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis;

b.         Studi kepustakaan yaitu menelaah bahan-bahan baik berupan perundang-undangan, hasil pengkajian, hasil-hasil penelitian dan referensi lain yang relevan.

c.         Diskusi dengan para pakar dibidangnya.

1.4. Sistematika Penulisan

Adapun Sistematika penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut

  • Bab I (Pendahuluan)
  • Bab II ( Tinjauan Teori)
  • Bab III ( Tinjauan Kebutuhan Dasar)
  • Bab IV ( Materi Diskusi)
  • Bab V ( Simpulan Dan Saran)
  • Daftar Pustaka

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1.      Pengertian kebutuhan seksual

Seksualitas sulit untuk di definisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai perintregrasian aspek somatik emosional intelektual dan social dari kehidupan seksual dengan cara yang positif memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta. Banyak orang salah berpikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas dan seks bagaimanapun adalah sesuatu hal yang berbeda seks sering digunakan dalam 2 cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk member lebel jender, baik sesorang itu pria atau wanita. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan atau sama dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerak tubuh, etiket berpakaian, dan perbendaharaan kata. Seksualitas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup ini sering berbeda antara pria dan wanita (Denney dan Quadagno, 1992; Zawid, 1994)

Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekpresi pada dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, menyayangi, sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua tersebut.

2.2. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia

1. Anatomi Sistem Reproduksi

1)      Pria

a.         Testis

terletak di dalam skrotum.Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

b.        Saluran

  • Epididimis Fungsinya mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma.
  • Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.
  • Uretra punya 2 fungsi: Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air
  • kemih dari kandung kemih Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.
  • Vesicula Seminalis adalah sepasang kantong yang memproduksi 60% cairan air mani dimana air sperma diangkut, cairan ini digunakan untuk menyediakan nutrisi bagi sperma.

c.         Kelenjar

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma

Kelenjar Cowper menghasilkan cairan berwarna bening menuju saluran kencing saat rangsangan seksual sebelum ejakulasi dan orgasme.

d.        Organ Genitalia eksterna

Organ Genitalia eksterna terdiri atas :

a.       Penis terdiri dari:

  • Akar (menempel pada didnding perut)
  • Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
  • Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.

b.      2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan.

c.       Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.Jika terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

d.      Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.

2) Sistem reproduksi wanita

a. Eksternal

Mons pubis berfungsi melindungi organ seksual bagian dalam.
Klitoris (kelentit) adalah organ yang paling peka terhadap rangsangan,
Labia mayora adalah dua lipatan elastis dari kulit, berfungsi dan menutup dan melindungi struktur alat kelamin.

Labia minora adalah dua lipatan kulit sebelah dalam, yang Labia minora letaknya di sebelah dalam dari labia mayora dan lebih tipis, yang dapat menegang bila ada rangsangan seksual.

Perineum adalah jaringan otot yang berbeda di antara vagina dan anus yang menopang rongga panggul dan membantu menjaga organ panggul tetap pada tempatnya.

b. Internal

Kelenjar Bartholin memproduksi cairan seperti lendir saat adanya rangsangan seksual yang memberikan lubrikasi atau pelumasan pada vagina.
G-spot (Grafenberg spot) adalah sebuah area kecil sekitar 1-2 sentimeter dari pintu depan dinding vagina (dekat dengan saluran kencing), kira-kira di pertengahan antara tulang panggul dan serviks.

Serviks (leher rahim) berfungsi saat senggama, sentuhan dengan bagian ini memberikan kenikmatan seksual.

Uterus (rahim) adalah tempat di mana tertanam dan berkembangnya ovum (sel telur) yang sudah dibuahi,  Tuba fallopii (saluran telur) di mana ovum (sel telur) berenang dari ovarium menuju uterus dan di tempat ini pembuahan terjadi.

Ovarium (indung telur) Berfungsi menghasilkan ovum (sel telur) yang dikeluarkan setiap bulannya mulai dari pubertas hingga menopouse.
Endometrium. Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi.

Hormon – hormone reproduksi  GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone). untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).FSH (Follicle Stimulating Hormone). Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis). LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone). Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge).

c. Siklus Menstruasi

Siklus mnstruasi terbagi menjad 4. wanita yang sehat dan tidak hamil, setiap bulan akan mengeluarkan darah dari alat kandungannya.

1.      Stadium menstruasi (Desquamasi), dimana endometrium terlepas dari rahim dan adanya pendarahan selama 4hr.

2.      Staduim prosmenstruum (regenerasi), dimana terjadi proses terbentuknya endometrium secara bertahap selama 4hr

3.      Stadium intermenstruum (proliferasi), penebalan endometrium dan kelenjar tumbuhnya lebih cepat.

4.      Stadium praemenstruum (sekresi), perubahan kelenjar dan adanya penimbunan glikogen guna mempersiapkan endometrium.

5.

2.3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemenuhan Kebutuhan Seksual

a.       Faktor Fisik (Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah menurunkan keinginan seks)

b.      Faktor Hubungan (Masalah dalam berhubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks.Tingkat seberapa jauh hubungan mereka dapat mempengaruhi hubungan seks)

c.       Faktor Gaya Hidup (cth, penggunaan atau penyalahgunaan alkohol atau tidak punya waktu untuk mencurahkan perasaan keinginan seksual dalam berhubungan mempengaruhi keinginan seksual)

d.      Faktor Harga Diri (Tingkat harga diri-klien dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seks)

2.4. Manfaat Hubungan Seks Bagi Wanita Dan Pria

Manfaat hubungan seksual yang khusus bagi wanita adalah sebagai peredam rasa sakit, beberapa penelitian menunjukkan ambang batas rasa sakit pada wanita meningkat secara substansial ketika orgasme.l dan bagi pria adalah memperpanjang usia.Menurut penelitian Cardiff University di Wales, pria yang mencapai orgasme dua kali atau lebih dalam seminggu cenderung hidup lebih lama ketimbang pria yang cuma satu kali orgasme atau tidak sama sekali.

Secara umum, manfaat berhubungan seks adalah : Redakan stres, Tingkatkan daya tahan tubuh, Seks membakar kalori, Sehatkan jantung dan pembuluh darah, Tingkatkan kepercayan diri, Memperbaiki keintiman, Mengurangi rasa sakit, Tekan risiko kanker prostat, Memperkuat otot dasar panggul, Memperbaiki kualitas tidur

2.5. Penyakit Menular Seksual Karena Bakteri

2.5.1. Gonorrhea & Chlamydia

  • Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini
  • Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.
  • Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kemandulan

2.5.2. Syphilis

  • Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
  • Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit
  • Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagiantubuh lain

2.5.3. Aids (Acquired Immune Deficiency Syndrome)/Hiv Disease

  • Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh
  • Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah
  • Dapat menyebabkan kematian setelah sepukuh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
  • Disebarkan melalui hubungan intim dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.

2.6. Tinjauan Seksual Dari Beberapa Aspek

1.         Aspek Biologis

Aspek ini mengandung dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan fisiologi dari sitem reproduksi(seksual), kempamuan organ sex, dan adanya hormonal dan system saraf yang berfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual.

2.         Aspek Pisiologis

Aspek ini merupakan pandangan terhadap indetiatas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.

3.         Aspek sosiial budaya

Aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di masyarakat.

2.7. Perkembangan Seksual

Perkembangan seksual diawali dari masa pranatal dan bayi, kanak-kanak, masa pubertas, masa dewasa muda dan pertengahan umur, serta dewasa.

2.7.1. Masa Pranatal dan Bayi

Pada masa ini komponen fisik dan biologis sudah mulai berkembang. Berkembangannya organ seksual mampu merespons rangsangan, seperti adanya ereksi penis pada laki-laki dan adanya pelumas vagina pada wanita. Perilaku ini terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya perasaaan senang. Menurut sigmund freud, tahap perkembangan psikoseksual pada masa ini adalah :

  1. Tahap oral, terjadi pada umur 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan, atau kenikmatan dapat dicapai dengan menghisap, mengigit, mengunyah, atau bersuara. Anak memiliki ketergantugan sangat tinggi dan selalu minta dilondungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah masalah menyapi dan makan.
  2. Tahap anal, terjadi pada umur 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ii terjadi pada saat pengeluaran feses. Anak mulai menunjukan keakuanny, sikapnya sangat narsitik (cinta terhadap diri sendiri), dan egois. Anak juga mulai mempeljari struktur tubuhnya. Pada tahap ini anak sudah dapat dilatih dalam hal kebersihan.

2.7.2. Masa Kanak-kanak

Masa ini dibagi dalam usia toddler, prasekolah, dan sekolah perkembangan seksual pada masa ini diawali secara biologis atau fisik, sedangkan perkembangannya psikosesksual pada masa ini adalah :

1.      Tahap oedipal/phalik, terjadi pada umur 3-5 tahun. Kepuasaan anak terletak pada rangsangan otoerotis, yaitu meraba-raba, mersakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya. Anak juga mulai menyukai lain jenis. Anak laki cendrung suka pada ibunya daripada ayahnya, sebaliknya anak perempuan lebih suka pada ayahnya, anak mulai dapat mengindentifikasi jenis kelamin dirinya, apakah laki-laki atau perempuan, belajar melalui interaksi dengan figur orang tua, serta mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelaminnya.

2.      Tahap laten, terjadi pad umur 5-12 tahun. Kepuasaan anak mulai terintegrasi, mereka memasuki masa pubertas dan berhadapan langsung pada tuntutan sosial, seperti suka hubungan dengan kelompoknya atau teman sebaya, dorongan libido mulai mereda. Pada masa sekolah ini, anak sudah banyak bertanya tentang hal seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca, atau berfantasi.

2.7.3. Masa Pubertas

Pada masa ini sudah terjadi kematangan fisik dari aspek seksual dan akan terjadi kematangan secara psikososial. Terjadi perubahan secara psikologis ini ditandai dengan adanya perubahan dalam citra tubuh (body image) perhatian yang cukup besar terhadap perubahan fungsi tubuh, pembelajaran tentang perilaku, kondisi sosial, dan perubahan lain, seperti perubahan berat badan, tinggi badan, perkembangan otot, bulu di pubis, buah dada, atau menstruasi bagi wanita. Tahap yang di sebut oleh freud sebagai tahap genital ini terjadi pada umur lebih dari 12 tahun. Kepuasan anak pada tahap ini akan kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta yang matang terhadap lawan jenis.

2.7.4. Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur

Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup dan seks sekunder mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada masa pertengahan umur terjadi perubahan hormonal; pada wanita di tandai denganpengecilan payudara dan jaringan vagina, penurunan cairan vagina selanjutnya akan terjadi penurunan reaksi erksi; pada pria ditandai dengan penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari perkembangan psikososial,sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis, proses pernikahan  dan memiliki anak, sehingga terjadi perubahan peran.

2.7.5. Masa Dewasa Tua

Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina dan jaringan payudara, penurunan cairan vagina dan penurunan intensitas orgasme pada wanita; sedangkan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma, berkurangnya intesintas orgasme, terlambatnya pencapaian ereksi, dan pembesaran kelenjar prostat.

2.7.6. Masa Dewasa Tua (Lansia)

Seksualitas dalam usia tua beralih dari  penekanan pada prokreasi menjadi penekanan pd pertemanan kedekatan fisik komunikasi intim dan hubungan fisik mncri ksenangan (Ebersole & Hess 1994).Tidak ADa alas an bagi individu tdk dpat ttp aktf secara seksual sepanjang mereka memilihnya.Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dgn mmperthnkn aktifitas seksual scra teratur sepnjng hidup.terutama seks bagi wanita hubungan senggama teratur membantu mmperthnkan elastisitas vagina mncegah atrofi dam mmperthnkan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian proses penuaan mempengaruhi perilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia.lansia mngkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang mmbuat sulit   bagi mereka utk melanjutkan aktifitas seksual.dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit kronis medikasi sakit dan nyeri atau masalah kesehatan lainnya.

2.8. Penyimpangan Seksual Pada Orang Dewasa

Beberapa bentuk penyimpangan seksual atau deviasi seksual yang dapat di jumpai di masyarakat antara lain :

  1. Pedofilia yaitu kepuasaan seksual dicapai dengan menggunakan objek anak-anak. Penyimpangan ini di tandai dengan adanya fantasi berhubungan seksual dengan anak di bawah usia pubertas. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kelainan mental, seperti shizofrenia, sadisme organik, atau gangguan kepribadian organik.
  2. Eksibisionisme yaitu Kepuasaan seksual dicapai dengan cara mempertontonkan alat kelamin di depan umum. Hal ini biasanya dilakukan secara mendadak di hadapan orang yang tidak dikenal, namun tidak ada upaya untuk melakukan hubungan seksual.
  3. Fetisisme yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan benda seks sperti sepatu tinggi, pakaian dalam, stocking, atau lainnya. Disfungsi ini dapat disebabkanantara lain karena eksperimen seksual yang normal dan bedah pergatian kelamin.
  4. Transvertisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan memakai pakaian lawan jenis dan melakukan peran seks yang berlawanan, misalnya pria yang senang menggunakan pakaian dalam wanita.
  5. Transeksualisme yaitu Bentuk penyimpangan seksual ditandai dengan perasaan tidak senag terhadap alat kelaminnya, adanya keinginan untuk berganti kelamin.
  6. Voyerisme/skopofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan melihat alat kelamin orang lain atau aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
  7. Masokisme yaitu Kepuasan seksual dicapai melalui kekerasan atau disakiti terlebih dahulu secara fisik atau psikologis.
  8. Sadisme yaitu Merupakan lawan dari masokisme. Kepuasan seksual dicapai dengan menyakiti objeknya, baik secara fisik maupun psikologis (dengan menyiksa pasangan) hal tersebut dapat disebakan antara lain karena perkosaan dan pendidikan yang salah.
  9. Homoseksual dan lesbian yaitu Penyimpangan seksual yang di tandai dengan ketertarikan secara fisik maupun emosi kepada sesama jenis. Kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan orang berjenis kelamin sama.
  10. Zoofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek binatang.
  11. Sodomi yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan hubunagn melalui anus
  12. Nekropilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek mayat.
  13. Koprofilia yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek feses.
  14. Urolagna yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek urine yang di minum.
  15. Oral Seks/Kunilingus yaitu Kepuasan seksual dicapai dengan kontak mulut dengan alat kelamin wanita
  16. Felaksio yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan mulut pada kelamin laki-laki.
  17. Froterisme/friksionisme yaitu Kepuasaan seksual dicapai dengan menggunakan penis pada pantat wanita atau badan yang berpakaian ditempat umum penuh sesak manusia.
  18. Goronto yaitu kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan lansia.
  19. Frottage yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara meraba orang yang senangi tanpa diketahui lawan jenis.
  20. Pornografi yaitu gambar atau tulisan yang dibuat secara khusus untuk memberi rangsangan seksual (Maramis WF, 2004).

2.9. Bentuk Abnormalitas Seksual Akibat Dorongan Seksual Abnormal

Banyak dorongan seksual abnormal yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi seksual atau terjadinya abnormalitas seksual. Beberapa bentuk abnormalitas seksual akibat dorongan seksual abnormal antara lain:

1. Prostitusi

Bentuk penyimpangan seksual dengan pola dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi dalam kepribadian, sehingga relasi seks bersifat impersonal, tanpa adanya afeksi dan emosi yang berlangsung cepat, dan tanpa adanya orgasme pada wanita. Kejadian ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, prostitusi disebabkan karena keinginan mencari variasi dalam seks, iseng, dan ingin menyalurkan kebutuhan seksual. Pada wanita, kejadian ini dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, adanya disorganisasi kehidupan keluarga, dan adanya nafsu seks yang abnormal

2. Perzinahan

Bentuk relasi seksual antara laki-laki dan wanita yang bukan suami atau istri. Perzinahan pada wanita baru mengarah kehubungan seksual dengan laki-laki lain setelah adanya relasi emosional atau afeksional yang sangat kuat. Pada pria, perzinahan biasanya disebabkan oleh rasa iseng atau dorongan untuk memuaskan seks secara sesaat.

3. Frigiditas

Merupakan ketidakmampuan wanita mengalami hasrat seksual atau orgasme selama senggama. Frigiditas ditandai dengan berkurangnya atau ketidaktertarikan sama sekali pada hubungan seksual atau tidak mampu menghayati orgasme dalam koitus (hubungan intim). Beberapa faktor yang menyebabkan frigiditas adalah kelainan dalam rahim atau vagina, adanya hubungan yang tidak baik dengan suami, rasa cemas, bersalah, atau takut.

4. Impotensi

Ketidakmampuan pria untuk melakukan relasi seks atau senggama atau ketidakmampuan pria dalam mencapai atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini banyak disebabkan oleh faktor psikologis, seperti kecemasan atau ketakutan, pengalaman buruk masa lalu, dan persepsi seks yang salah.

5. Ejakulasi Prematur

Merupakan kondisi dimana terjadinya pembuangan sperma yang terlalu dini sebelum zakar melakukan penetrasi dalam liang senggama atau berlangsung ejakulasi beberapa detik sesudah penetrasi. Masalah ini umumnya disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri serta kegagalan dalam membangun hubungan suami istri.

6. Vaginismus

Peristiwa yang ditandai dengan kejang yang berupa penegangan atau pengerasan yang sangat menyakitkan pada vagina atau kontraksi yang sangat kuat sehingga penis terjepit dan tidak bisa keluar. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan organis dan psikologis (ketakutan).

7. Dispareunia

Keadaan yang ditandai dengan timbulnya kesulitan dalam melakukan senggama atau perasaan sakit pada saat koitus. Kejadian ini dapat terjadi pada saat sperma keluar, karena kurangnya cairan vagina, dan lain-lain.

8. Anorgasme

Kondisi kegagalan dalam mencapai klimaks selama bersenggama, biasanya bersifat psikis, ditandai dengan pengeluaran sperma tanpa mengalami puncak kepuasan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor psikis atau adanya faktor organik seperti ketidakmampuan penetrasi untuk memberi rangsangan atau vagina yang longgar.

9. Kesukaran Koitus Pertama

Keadaan dimana terjadi kesulitan dalam melakukan koitus pertama dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan diantara pasangan, adanya ketakutan atau rasa cemas dalam berhubungan seks, dan lain-lain.

2.10. Siklus Respons Seksual

Siklus respons seksual terdiri atas beberapa tahap berikut:

1. Tahap Suka Cita

Merupakan tahap awal dalam respons seksual pada wanita ditandai dengan banyaknya lendir pada daerah vagina, dinding vagina mengalami ekspansi atau menebal, meningkatnya sensitivitas klitoris, puting susu menegang, dan ukuran buah dada meningkat. Pada laki-laki ditandai dengan ketegangan atau ereksi pada penis dan penebalan atau elevasi pada skrotum.

2. Tahap Kestabilan

Pada tahap ini wanita mengalami retraksi di bawah klitoris, adanya lendir yang banyak dari vagina dan labia mayora, elevasi dari serviks dan uterus, serta meningkatnya otot-otot pernapasan. Pada laki-laki ditandai dengan meningkatnya ukuran gland penis dan tekanan otot pernapasan.

3. Tahap Orgasme (Puncak)

Tahap puncak dalam siklus seksual pada wanita ditandai adanya kontraksi yang tidak disengaja dari uterus, rectal dan spinchter, uretra, dan otot-otot lainnya, terjadi hiperventilasi dan meningkatnya denyut nadi. Pada laki-laki ditandai dengan relaksasi pada spinchter kandung kencing, hiperventilasi, dan meningkatnya denyut nadi.

4. Tahap Resolusi (Peredaan)

Merupakan tahap terakhir dalam siklus respons seksual, pada wanita ditandai adanya relaksasi dari dinding vagina secara berangsur-angsur, perubahan warna dari labia mayora, pernapasan, nadi, tekanan darah, otot-otot berangsur-angsur kembali normal. Pada laki-laki ditandai dengan menurunnya denyut pernapasan dan denyut nadi serta melemasnya penis

2.11. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masalah Seksual

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi gangguan dalam fungsi seksual, diantaranya:

  1. Tidak adanya panutan (role model).
  2. Gangguan struktur dan fungsi tubuh, seperti adanya trauma, obat, kehamilan atau abnormalitas anatomi genitalia.
  3. Kurang pengetahuan atau informasi yang salah mengenai masalah seksual.
  4. Penganiayaan secara fisik.
  5. Adanya penyimpangan psikoseksual.
  6. Konflik terhadap nilai.
  7. Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian

BAB III

TINJAUAN KEBUTUHAN DASAR

3.1.      Konsep Tentang Seksualitas

Seksualitas sulit untuk didefinisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam prilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Banyak orang salah berfikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas dan seks, bagaimana pun, adalah suatu hal yang berbeda. Kata seks sering digunakan dalam dua cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktifitas seksual genital. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas. Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencangkup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tenang diri mereka dan bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan melalui prilaku yang lebih halus.

Proses bagaimana seseorang mengetahui diri mereka sebagai wanita atau pria tidak jelas dipahami. Terlahir dengan genitalia pria atau wanita dan selanjutnya mempelajari peran sosial wanita atau pria tampak sebagai suatu keharusan, namun hal ini tidak menjelaskan semua variasi seksualitas dan perilaku seksual. Keragaman ini lebih dapat dipahami ketika perawat mengingat bahwa seksualitas adalah saling menjalin dengan semua aspek diri. Pertimbangan tentang seksualitas dan kesehatan seksual karenaya, membutuhkan perspektif holistic. Seksualitas dan kesehatan seksual memiliki dimensi sosiokultural, etika, psikologis dan biologis.

3.2.      Sikap Terhadap Kesehatan Seksual

Sikap yang ditujukan pada perasaan dan perilaku seksual berubah sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan seseorang sampai menjadi tua. Perubahan ini mungkin menjadi lebih tradisional  atau liberal karena perubahan masyarakat, umpan balik dari orang lain, dan keterlibatan dalam kelompok keagamaan dan komunitas.

Karena kesejahteraan mencakup kesehatan seksual, maka seksualitas harus menjadi bagian dari program perawatan kesehatan. Namun pengkajian dan interpensi seksual tidak selalu termasuk dalam perawatan. Bidang seksualitas mungkin bersifat sangat emosional bagi perawat dan klien. Kurang informasi, konflik sistem nilai, ansietas, atau rasa bersalah mungkin tidak memberlakukan maksud terbaik perawat untuk meningkatkan kesehatan seksual. Klien mungkin tidak mendiskusikan kekhawatiran seksual tertentu karena mereka merasa topik seperti ini berlebihan atau mereka takut bahwa perawat akan menghakimi mereka. Perawat mungkin mengabaikan isyarat klien tentang kekhawatiran seksual karena mereka merasa tidak nyaman dengan seksualitas. Kata – kata seperti masturbasi, homoseksualitas, aborsi dan orgasme mungkin mempunyai konotasi emosional yang dapat membantu orang merasa tidak nyaman. Pada tingkat yang lebih halus, infasi terhadap privasi, kurang dihargai pada klien yang dirawat di rumah sakit, memerlukan waktu untuk bersama pasangan seksual, atau bahkan cara perwat menyentuh klien mencerminkan sikap yang ditujukan kepada seksualitas.

  • Sikap seksual klien

Semua orang mempunyai sistem nilai seksual yaitu keyakinan pribadi dan keinginan yang berkaitan dengan seksualitas yang dapat sepanjang hidupnya. Pengalaman ini dapat membuat mudah bagi klien untuk berhadapan dengan masalah lingkungan perawatan kesehatan atau dapat menghambat klien untuk mengekspresikannya. Beberapa klien mungkin bingung tentang sistem nilai seksual mereka dan karenanya mengalami perasaan ambigu atau menegangkan ketika menghadapi seksualitas mereka sendiri. Selain itu, jika klien percaya dalam peran yang sesuai berdasarkan tradisional,mereka mungkin menganggap perawat sebagai wanita dan bersikap tunduk.Gambaran historing tentang perawat adalah seseorang dengan kedisiplinan, kesucian, dan kebersihan. Karena perawat mempunyai hak untuk menyentuh tubuh klien yang dirawat di rumah sakit dan melakukan kebersihan diri klien, maka mereka diharapkan menekan seksualitas mereka sendiri. Namun demikian, perhatian utama tentang klien adalah apakah prilaku, sikap, perasaan, dan sikap seksual spesifik adalah normal. Karena masyarakat tidak didorong untuk secara terbuka membicarakan tentang seksualitas.

Klien mungkin kuatir tentanf efek intervensi keperawatan terhadap kemampuan perawatan diri dan aktivitas seksual mereka. Suatu cedera atau penyakit dapat menyebabkan perubahan dalam cara seseorang mengekspresikan diri sendiri secara seksual. Klien yang dirawat harus diberi privasi ketika dikunjungi oleh pasangan seksualnya. Privasi ini memungkinkan waktu untuk pembicaraan intim, menyentuh, atau berciuman. Di lingkungan rumah, perawat meluangkan waktu untuk membantu klien beradaptasi terhadap setiap keterbatasan fisik sehingga aktivitas seksual dapat dipertahankan.

  • Sikap Perawat terhadap Seksualitas

Karena profesional keperawatan kesehatan mewakili masyarakat dan sikap serta prilaku seksualnya yang beragam, maka keragaman itu dipahami dan diharapkan diantara profesional perawatan kesehatan. Perawat dapat menghadapi sikap personal dengan menerima keberadaan mereka, menggali sumber mereka, dan menemukan cara untuk bekerja dengan mereka. Prilaku profesioanl tidak harus berkompromi dengan etik seksual personal dari perawat dan klien. Prilaku profesional harus menjamin bahwa klien menerima perawatan kesehatan terbaik yang paling mungkin tanpa menghilangkan nilai-diri mereka.

Perawat mungkin menemukan kesulitan untuk tidak menghakimi seksualitas klien ketika orientasi atau nilai seksual klien berbeda. Situasi yang tampak aneh atau salah bagi perwat mungkin tampak normal dan dapat diterima oleh klien. Dengan berupaya untuk mengubah sikap dan prilaku seksual klien akan mengabaikan perbedaan mendasar dalam sikap di antara manusia. Promosi tentang edukasi seks dan pemeriksaan nilai dan keyakinan seksual dengan jujur dapat membantu dalam mengurangi bias seksual. Klien membutuhkan informasi yang akurat, jujur tentanf efek penyakit pada seksualitas dan cara yang dapat menunjang kesejahteraan.

3.3. Seks Ditinjau dari Masalah Sosial

Secara sosial hubungan seks baru diperbolehkan bila telah terikat dalam perkawinan. Ditengah masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila,belum dapat diterima kehamilan tanpa status perkawinan yang resmi,atau hidup bersama tanpa pernikahan.Menghadapi gerakan keluarga berencana dianjurkan untuk menikah pada usia yang relatif dewasa (20-25 tahun) sehingga diperlukan waktu panjang mencapai umur itu.

Menghadapi penundaan perkawinan ini para remaja memerlukan penyaluran diri sehingga terhindar dari berbagai aspek hubungan seks yang dilakukan secara sembrono.

Hubungan seks yang bebas sudah tentu akan menimbukan akibat yang tidak diinginkan yaitu kehamilan yang belum dikehendaki,penyakit hubungan seks dan penyakit radang panggul,akhirnya terjadi kemandulan.Dalam situasi masa pancaroba dan menunggu sampai usia kawin inilah peranan orang tua sangat penting mengarahkan remaja menuju tingkah laku tang positif dan terutama dalam pendidikan sehingga dapat mencapai sasaran belajar yang dikehendaki.Disamping itu tingkah laku orang tua pun tidak kalah pentingnya menjadi contoh dan menjadi panutan remaja dalam bertingkah laku. Mendampingi remaja saat ini sangat penting sehingga tercapai cita – cita dan tidak mengurangi masa depan yang lebih baik. Pendidikan seks sangat diperluka, sehingga terdapat pengertian yang benar tentang berbagai masalah hubungan seksual.

3.4.      Hubungan Seks dalam Keluarga

Hubungan seksual dalam keluarga merupakan puncak keharmonisan dan kebahagiaan, oleh karena itulah kedua belah pihak harus dapat menikmatinya bersama. Perlu diakui bahwa pada permulaan perkawinan sebagian besar belum mampu mencapai kepuasan bersama, karena berbagai kendala. Setelah tahun pertama sebagian besar sudah mengerti dan dapat mencapai kepuasan bersama. Didasari bahwa pencapaian organisme pria sebagian besar terjadi lebih dahulu, sedangkan untuk wanita lebih lambat sehingga diperlukan permainan dengan cumbuan yang sempurna. Sekalipun bukan satu-satunya yang dapat memegang kendali kerukunan rumah tangga, tetapi ketidak puasan seks sudah dapat menimbulkan perbedaan pendapat, perselisihan dan akhirnya terjadi perceraian.Itulah sebabnya masalah seksual sebaiknya dibicarakan secara terbuka sehingga tidak mengecewakan dalam keluarga.

3.5.      Seks pada Lansia

Pada usia lanjut tidak ada halangan untuk meningkatkan hubungan seks, hanya frekuensinya tentu makin berkurang, tetapi diharapkan kualitasnya makin meningkat untuk keharmonisan keluarga.Usia lanjut pria dan masa klimakterium atau menopause, bukanlah halangan untuk melakukan hubungan seksual. Kadang-kadang, karena sudah tidak takut hamil, mungkin kepuasan seks dapat meningkat. Masalah yang dihadapi hubungan seks masa usia lanjut adalah keinginan seksual sudah berkurang, daerah erogen (erotik) kurang sensitif sehingga memerlukan rangsangan intensif, agak sulit mencapai orgasme. Oleh karena itu tidak salah bila golongan usia lanjut ini memerlukan bantuan yang salah satunya memutar film erotik yang dapat membangkitkan fantasi seks. Akan sangat keliru bila masyarakat menyalahkan tindakan ini sebagai tidak tahu diri, sudah tua kok masih menonton film biru semacam itu. Untuk menghindari cemoohan masyarakat sebaiknya pemutaran film ini dilakukan dalam kamar tersendiri dan hanya ditonton berdua. Tidak ada alasan bagi individu tidak dapat tetap aktif secara seksual sepanjang mereka memilihnya. Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dengan mempertahankan aktifitas seksual secara teratur sepanjang hidup. Terutama sekali bagi wanita, hubungan senggama teratur membantu mempertahankan elastisitas vagina, mencegah atrofi, dan mempertahankan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian, proses penuaan mempengaruhi prilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia. Lansia mungkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang membuat sulit bagi mereka untuk melanjutkan aktifitas seksual. Dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit kronis, medikasi, sakit dan nyeri, atau maslah kesehatan lainnya.

3.6. Seks pada Kehamilan

Perubahan lain yang dapat terjadi pada aktivitas seks adalah pada masa hamil. Keinginan seks pada waktu hamil sebagian besar tidak berubah, bahkan sebagian kecil makin meningkat, berkaitan dengan meningkatnya hormon estrogen. Oleh karena itu hubungan seks waktu hamil, bukanlah merupakan halangan. Pada kehamilan makin tua teknik pelaksanaannya agak sulit, karena perut makin membesar. Pada saat itu dapat dilakukan posisi siku lutut wanita. Dikemukakan bahwa menjelang dua minggu persalinan diharapkan jangan melakukan hubungan seks, karena dapat terjadi ketuban pecah dan memulai persalinan.

Pada waktu hamil hubungan seks harus dihindari pada keadaan keguguran berulang,hamil dengan perdarahan, hamil dengan tanda infeksi, kehamilan dengan ketuban yang telah pecah, atau hamil dengan luka di sekitar alat kelamin luar. Perubahan dalam seksualitas juga berlanjut setelah persalinan. Beberapa wanita mungkin tetap tidak berminat atau kehilangan respons seksual selama 6 bulan atau lebih. Perubahan hormonal, terutama penurunan estrogen, penurunan jumlah lubrikan yang mempunyai bahan dasar air. Keletihan yang disebabkan oleh menyusui dan gangguan tidur serta perubahan umum dalam tugas dan rutinitas rumah tangga secara negatif mempengaruhi keinginan seksual pada kedua pasangan. Takut tentang rasa nyeri vagina atau luka episiotomi juga dapat mengganggu aktivitas seksual. Secara fisiologis, pasangan harus menahan untuk tidak melakukan hubungan senggama sampai perdarahan terhenti dan luka episiotomi dan ketidaknyamanan vagina menghilang. Hal ini sering terjadi 2 atau 3 minggu setelah kelahiran. Selama periode awal ini dan bahwa dengan menyusui, pasangan perawatan kesehatan harus mendiskusikan tentang pilihan keluarga berencana.

Kurangnya hasrat seksual dan aktivitas seksual selama kehamilan dan setelah persalinan adalah hal yang wajar. Perawat harus memastikan bahwa pasangan mengetahui kemungkinan berkurangnya keinginan seksual sehingga pasangan tidak menginterpretasikan ketidakinginan istrinya dalam berhubungan senggama sebagai penolakan. Pengekspresian seksualitas dan kasih sayang dengan cara lain dapat diberikan. Aktivitas ini dapat mencakup memeluk, berciuman, memegang tangan, dan pijat.

3.7. Masalah Kepribadian dalam Perkembangan Seks

Kepribadian adalah kebutuhan sikap seseorang yang khas dan membedakannya dengan orang lain dalam berbagai hal, termasuk masalah seksual. Dengan demikian dapat dibedakan berbagai bentuk kepribadian sebagai berikut.

  • Kepribadian Terbuka

Mekera sangat terbuka dalam masalah seksual dan dengan mudah dapat diterka oleh orang lain. Mekera siap untuk menerima kritik orang lain sehingga menambah kematangan kepribadiannya.

  • Kepribadian Tertutup

Mereka yang mempunyai kepribadian tutup sukar diterka, dan tidak dapat menyampaikan kepada orang lain. Semua dirasakan dan dipendam sendiri dan berusaha mencari sendiri dan menyembunyikan masalah yang berkaitan dengan seks. Dorongan seksnya ditahan dan mungkin muncul dalam mimpi atau memuaskan diri sendiri (masturbasi).

  • Kepribadian Emosional

Emosinya selalu menguasai dirinya sendiri. Tingkah laku seksnya terlalu menonjol, sehingga setiap perasaan cinta harus diakhiri dengan hubungan seks.

  • Kepribadian Rasional

Dengan kepribadian ini, mereka tidak mudah jatuh cinta dan dicintai. Segalanya dipertimbangkan dengan baik, sehingga hasilnya memuaskan hatinya secara rasional.

3.8. Rencana Asuhan Keperawatan Pada Perubahan Pola Seksualitas

Keadaan Dimana Individu mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dal kesehatan seksual. Kesehatan seksual merupakan integrasi aspek somatik, emosional intelektual dan sosial dari seksualitas dengan cara mencapai dan meningkatkan kepribadian, komunikasi dan cinta.

Rencana Asuhan Keperawatan Pada Perubahan Pola Seksualitas terdiri dari 3 aspek, Yaitu:

  1. Pengkajian
  2. Diagnosa Keperawatan
  3. Intervensi

3.8.1. Pengkajian

Penkajian terdiri dari data objektif dan data subjektif yang bersandar dari batasan-batasan karakteristik. Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan pasien dan wawancara pasien atau keluarga pasien. Data objektif berasal dari Pemeriksaan Fisik yang dilakukan perawat terhadap pasien.

Batasan Karakteristik

  • Mayor (harus terdapat)

Perubahan aktual atau yang antisipasi dalam fungsi seksual atau indentitas seksual.

  • Minor (Mungkin Terdapat)

Ekspresi perhatian mengenai fungsi seksual atau identitas seksual.

Tidak sesuainya prilaku seksual verbal atau nonverbal.

Perubahan dalam karakteristik seksual primer atau sekunder.

3.8.2. Diagnosa Keperawatan

Perubahan pola seksual dapat terjadi sebagai respons terhadap berbagai masalah kesehatan, situasi, dan konflik.

Rumus Diagnosa keperawatan:

P(bd)+E+(dd)S

P= Masalah

E= Etiologi

S= Symtom

bd= Berhubungan dengan

dd= ditandai dengan

Masalah(P): Perubahan Pola Seksualitas

Symptom: suatu tanda/gejala yang berhubungan DS DO

Etiologi(E): Merupakan penyebab terjadinya perubahan pola seksualitas tersebut, yang berhubungan dengan berbagai faktor:

Faktor-Faktor yang berhubungan

  1. Berhubungan dengan efek-efek biokimia pada energi, libido sekunder akibat:
  2. Berhubungan dengan ketakutan terhadap. (penyakit-penyakit hubungan seksual)
  3. Berhubungan dengan efek Alkohol pada kinerja
  4. Berhubungan dengan penurunan lubrikasi Vaginal sekunder
  5. Berhubungan dengan ketakutan terhadap ejakulasi prematur/tertunda
  6. Berhubungan dengan fobio misalkan kehamilan, kanker atau penyakit kelamin
  7. Berhubungan dengan efek-efek biokimia pada energi, libido sekunder akibat:
  8. Berhubungan dengan ketakutan terhadap. (penyakit-penyakit hubungan seksual)
  9. Berhubungan dengan efek Alkohol pada kinerja
  10. Berhubungan dengan penurunan lubrikasi Vaginal sekunder
  11. Berhubungan dengan ketakutan terhadap ejakulasi prematur/tertunda
  12. Berhubungan dengan fobio misalkan kehamilan, kanker atau penyakit kelamin

3.8.3. Tujuan dan kriteria hasil

  • Pola seksualitas pasien dapat teratasi dalam waktu 4 x 24 jam

Kriteria  hasil

Individu akan:

1.      Menceritakan kepedulian atau masalah mengenai fungsi seksual

2.      Mengespresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual

3.      Mengidentifikasi stresor dalam kehidupan

4.      Melanjutkan aktivitas seksual sebelumnya

5.      Melaporkan suatu keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual

3.9. Intervensi Generik

  1. Dapatkan riwayat seksual:
  • Pola seksual biasanya
  • Kepuasan (individu, pasangan)
  • Pengetahuan seksual
  • Masalah (seksual, kesehatan)
  • Harapan
  • Suasana hati, tingkat energi
  1. Berikan dorongan untuk bertanya tentang seksualitas atau fungsi seksual yang mungkin mengganggu pasien.
  2. Gali hubungna pasien dengan pasangannya
  3. Jika stresor atau gaya hidup yang penuh stresor berdampak negatif terhadap fungsi :
  • Bantu individu dalam memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi stres.
  • Dorong identifikasi stresor yang ada dalam kehidupan ; kelompokan menurut individu sebagai dapat mengontrol dan tidak dapat mengontrol :

+ Dapat mengontrol

  • Keterbelakangan pribadi
  • Keterlibatan dalam aktifitas komunitas

- Tidak dapat mengontrol

  • Mengeluh
  • Penyakit anak perempuan
  • Lakukan program latihan teratur untuk reduksi stres. Lihat prilaku mencari bantuan kesehatan untuk intervensi.
  1. Indentifikasi pilihan metode untuk mengaktifkan energi seksual bila pasangan tidak ada atau jika ada keinginan:
  • Gunakan masturbasi, jika dapat diterima individu
  • Ajarkan keuntungan fisik dan psikologis tentang aktifitas fisik teratur ( sedikitnya 3x seminggu selama 30 menit).
  • jika pasangan meninggal, gali kesempatan untuk bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain (sekolah malam,club janda atau duda, kerja komunitas).
  1. Jika suatu perubahan atau kehilangan bagian tubuh mempunyai dampak negatif terhadp fungsi;
  • Kaji tahapan adaptasi dari individu dan pasangan terhadap kehilangan ( mengingkari, depresi, marah, resolusi, berduka)
  • Jelaskan kenormalan dari respon kelanjutan dari kehilangan.
  • Jelaskan kebutuhan untuk membagi perhatian dengan pasangan: gambaran respon dari pasangan, ketakutan terhadap penolakan, ketakutan terhadap kehilangan yang akan datang dan ketakutan secara fisik melalui pasangan.
  • Dorong pasangan untuk mendiskusikan kekuatan hubangan mereka dan untuk mengkaji pengaruh dari kehilangan pada kekuatan mereka.
  • Anjurkan individu untuk mengambil aktifitas seksual sedemikian rupa mendeteksi pola sebelumnya jika mungkin.
  1. Identifikasi penghambat untuk memuaskan fungsi seksual
  2. Ajarkan teknik untuk
  • Mengurangi konsumsi oksigen

Ø  Gunakan oksigen selama aktifitas seksual jika di indikasikan.

Ø  Lakukan aktifitas seksual setelah penatalaksanaan pernapasan tekanan positif intermitent

Ø  Rencanakan aktifitas seksual untuk individu pada saat yang paling segar.

Ø  Gunakan posisi berhungan intim yang nyaman dan biarkan nafas tidak dibatasi.

  • Kurangi beban kerja dari jantung (pasien jantung harus menghindari aktifitas seksual)

Ø  Dalam suhu ekstrim

Ø  Langsung setelah makan dan minum

Ø  Saat intoksitasi

Ø  Saat lelah

Ø  Dengan pasangan yang tidak dikenal

Ø  Istirahat sebelum aktifitas seksual (pagi hari paling baik)

Ø  pasien jantung harus mengakhiri aktifitas seksual jika dada tidak nyaman atau terjadi dispnea.

  • Kurangi atau hilangkan nyeri :

Ø  Jika pelumasan vagina menurun gunakan pelumas cair

Ø  Gunakan pengobatan untuk nyeri sebelum aktifitas seksual

Ø  Gunakan apa saja yang mereklasasikan individu sebelum aktifitas seksual (kantung panas, mani pancuran panas)

  1. Lakukan penyuluhan kesehatan dan rujukan sesuai indikasi.

3.10. Intervensi Pada Anak

  1. Perjelas kerahasian dari diskusi.
  2. Usahakan bersikap terbuka, hangat, objektif, tidak memalukan dan menyenangkan.
  3. Gali perasaan dan pengalaman seksual.
  4. Diskusikan bagimana bakteri di pindahkan secara vaginal,anal, dan oral.
  5. Untuk wanita muda, jelaskan hubungan penyakit menular seksual.
  6. Tunjukan diagram struktur reproduktif.
  7. Tekankan bahwa kebanyakan penyakit menular seksual tidak mempunyai gejala pada awalnya.
  8. Diskusikan pantangan dari persepektif seksual.
  9. Bedakan metode kontraseptif yang tersedia.
  10. Jelaskan dan berikan intruksi tertulis untuk metode yang di pilih.

3.11. Intervensi Pada Lansia

  1. Jelaskan bahwa proses penuaan normal mempengaruhi kemempuan reproduksi tetapi mempunyai sedikit efek pada fungs seksual.
  2. Gali minat, aktivitas, sikap, dan pengetahuan mengenai fungsi seksual.
  3. Bila berhubungan, diskusikan efek-efek penyakit kronis dan fungsi.
  4. Jelaskan efek obat tertentu pada fungsi seksual ( mis, kardiovaskular, antidepresan, antihistamin, gasrointentital, sedatif, alkohol)
  5. Bila disfungsi seksual dihubungkan dengan obat, gali alternatifnya (mis, ganti obat, penurunan dosis)
  6. Dengan pihak wanita, diskusikan kualitas pelumas vagina dan ketersediaan pelumas larut air.
  7. Dorong pertanyaan. Bila diperlukan, rujuk pada ahli urologi atau spesialis lain.

3.12. Intervensi Pada Maternal

  1. Diskusikan perubahan tubuh selama kehamilan. Dorong pasangan untuk mengungkapkan perasaan mereka.
  2. Tenangkan bawa kecuali ada masalah (persalinan preterm, kehilangan ayi sebelumnya, perdarahan atau ruput membrane). Koitus diisinkan sampai mulainya persalinan.
  3. Orgasme akibat berhubungan intim atau masturbasi tidak dianjurkan jika ada bercak atau terjadi pendarahan, ketuban pecah dini atau jika ada riwayat keguguran berulang.
  4. Anjurkan pergantian posisi seksual untuk kehamilan selanjutnya untuk mencegah tekanan abdominal (mis. Miring, wanita berlutut, wanita di atas). Berikan penenangan tentang perubahan pascapartum. Tenangkan bahwa ini adalah keadaan sementara dan akan teratasi dalam 2 sampai 3 bulan.
  5. Tenangkan bahwa perubahan sikap seksual selama kehamilan dari perasaan sangat menginginkan seks sampai hanya ingin dimanja.
  6. Dorong komunikasi jujur dengan pasangan mengenai keinginan atau perubahan dalam minat.
  7. Akui keletihan, khusunya selama trimester persama, bulan terakhir, dan pascapartum.
  8. Dorongan individu menyediakan waktu untuk hubungannya, dalam seksua dan konteks lain.
  9. Ajarkan pasangan untuk berpantang untuk hubungan seks atau koitus dan mencari bantuan dari pemberi perawatan kesehatan mereka bila ada situasi berikut (May & Malmeister, 1994). Perdarahan vagina dan Dilatasi premature.

BAB IV

MATERI DISKUSI

EKSPLOITASI SEKSUAL REMAJA

4.1.      Karakteristik Seksual Remaja

Secara general, definisi seksual adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau berhubungan dengan tindakan dan perilaku hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan perkembangan fisik laki-laki dan perempuan yang berbeda jenis karakter seksualnya, ada pembagian 2 (dua) jenis karakter seksualnya yaitu seksual primer dan seksual sekunder. Primary sexual merupakan karakteristik seksual yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi dan organ alat kelamin laki-laki maupun perempuan (genitalia). Secondary sexual adalah karakteristik seksual yang berupa tanda-tanda pertumbuhan organ seksual, seperti pada remaja putra ; tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja putri ; tumbuh rambut kemaluan, pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, mulai mengalami haid dan lain sebagainya.

Pada titik awal petumbuhan karakteristik seksual, secara psikologis usia dimulai pada masa usia remaja. Remaja adalah masa peralihan usia antara anak menuju dewasa yang interval waktunya berbeda-beda tergantung factor social dan budaya. Ciri-cirinya adalah mulai berfungsinya alat-alat reproduksi, libido mulai tumbuh, daya intelegensia mencapai puncak perkembangannya, frekuensi emosi masih sangat labil, rasa kesetikawanan yang kuat terhadap teman sebaya dan dikategorikan belum menikah.

Menurut WHO, definifi remaja adalah suatu masa dimana ;

1.        Individu yang berkembang dari saat pertama ia menunjukkan tand-tanda seksual sekunder sampai saat mencapai kematangan seksual

2.        Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa

3.        Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yan penuh dengan keadaan yang relative lebih mandiri.

Usia remaja berkisar antar 10 – 20 tahun, yang dibagi menjadi 2 fase yaitu remaja awal (berumur 10 – 14 tahun) dan remaja akhir (berumur 15 – 20 tahun). Menurut Sarlito, secara umum batasan umur remaja Indonesia antara 11 – 24, belum menikah dan dengan pertimbangan sebagai berikut ;

1.        Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak ( criteria fisik )

2.        Dibanyak masyarakat Indonesia usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh baik menurut adapt maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak ( criteria social )

3.        Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral ( criteria psikologik )

4.        Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimum yaitu untuk memberikan peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa ( secara adat/tradisi )

5.        Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting dimasyarakat secara menyeluruh. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa enuh baik secara hokum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah.

Seiring dengan proses pertumbuhan karakteristik seksual primer dan sekunder pada usia remaja menuju kematangan psikologis. Dari situ muncul juga hasrat dan dorongan untuk memenuhi atau menyalurkan keinginan seksualnya dikarenakan oleh dorongan secara alamiah manusia yang mempunyai ciri dan fungsi sebagai makhluk hidup untuk berkembangbiak dan mempertahankan keturunan. Naluri pemenuhan kebutuhan seksual bersifat fitrah dan suci, namun dalam proses pemenuhannya bisa ternodai kesuciannya jikalau tidak dilakukan dengan proses yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai normatif dan konstitusional.

4.2. Perilaku Seksual Remaja

Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang dimotivasi hasrat dan nafsu birahi seksual yang dilakukan seseorang, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Beraneka ragam bentuk-bentuk tingkah laku seksual yang sering dilakukan kalangan remaja dalam memenuhi hasrat seksual yang menyimpang, mulai dari perasaan tertarik (pacaran), berkencan, bercumbu dan bersenggama. Sedangkan obyek seksualnya bisa berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri.

Adapun berbagai perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;

1.      Masturbasi atau onani yaitu kebiasaan penyimpangan perilaku seksual dengan cara memanipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan nafsu birahi untuk memenuhi kenikmataan seksual, kebiasaan buruk ini seringkali menimbulkan goncangan psikologis remaja yang sering melakukannya.

2.      Pacaran, yaitu sebuah ekspresi perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja, yang dilakukan mulai dari sentuhan, pengangan tangan sampai ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang didasari memenuhi dorongan keinginan hasrat dan nafsu birahinya.

3.      Tindakan yang mengarah pada pemuasan kebutuhan seksual, seperti menonton video porno, mengkonsumsi gambar-gambar porno baik melalui internet maupun majalah, dan lain sebagainya.

Dalam buku Psikologi Remaja, Sarlito W. Sarwono menyatakan bahwa factor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja adalah sebagai berikut ;

1.      Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormone ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu

2.      Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hokum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan maupun karena norma social yang semakin lama semakin menuntut persyarakatan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

3.      Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut

4.      Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh ; VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam proses ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yan dilihat atau didengar dari media massa karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya

5.      Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuan maupun sikapya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka dengan anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan dalam masalah ini

6.      Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria

4.3. Pendidikan Seksual

Dorongan memenuhi hasrat nafsu birahi selalu muncul dikalangan remaja yang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dengan ditandai pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder dan perkembangan kematangan psikoseksualnya. Remaja yang tidak mampu mengendalikan atau mengontrol dorongan hasrat seksualnya tentu akan mencari sarana pemenuhan kebutuhan seksualnya meskipun menempuh jalan yang menyimpang. Oleh karena itu jika tidak ada penyaluran yang sesuai dengan nilai normative dan konstitusional (menikah), maka harus dilakukan upaya-upaya untuk memberikan pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, meliputi pertumbuhan organ alat genital, perkembangan psikoseksual remaja, dampak dan akibat penyimpangan seksual atau melakukan perilaku seksual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Menurut Sarlito, pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan. Selain menerangkan aspek-aspek anatomis, biologis dan psikologis. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan nilai-nilai agama sehingga akan merupakan proses pendidikan akhlak dan moral. Pendidikan seksual juga harus diberikan secara bertahap yang disesuaikan dengan pertumbuhan perkembangan umur dan daya tangkap anak. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, social dan kesusilaan ( Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987 ).

Dalam hal pendidikan seksual, idealnya diberikan sejak dini oleh orang tua dirumah ketika anak sudah mulai bertanya perbedaan kelamin antara dirinya dengan orang lain, yang diberikan secara bertahap dan berkesinambungan dengan disesuaikan pertumbuhan umur dan daya tangkap. Namun sayangnya di Indonesia, tidak sedikit orang tua yang mampu memberikan informasi dan pengetahuan seputar masalah seksualitas. Oleh karena itu, peran pendidikan formal maupun non formal sangatlah besar dan signifikan dalam memberikan pendidikan seksual dikalangan remaja.

Adapun tujuan pendidikan seksual dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;

1.        Memberikan informasi, pengertian dan pengetahuan yang memadai mengenai perubahan fisik dan psikis yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja

2.        Mendidik remaja mengetahui dan memahami peran, tuntutat dan tanggung jawab social-moral sehingga dapat mengurangi ketakutan atau kecemasan yang berkaitan dengan perkembangan dan penyesuaian kondisi psikoseksualnya.

3.        Memberikan pengertian mengenai seks dalam semua manifestasi yang beraneka ragam, yang sesuai dengan nilai norma agama dan kesusilaan

4.        Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral dan dasar rasional dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perilaku seksual.

5.        Memberikan pengetahuan mengenai kesalahan dan penyimpangan seksual agar remaja dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan fisik dan psikisny

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Seksualitas merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kebutuhan seksual yang dialami oleh orang dewasa merupakan kebutuhan seks yang mengalami penurunan fungsi organ reproduksi mengakibatkan kecanggungan dalam hubungan pasangan suami istri.

Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu mengalami atau beresiko mengalami perubahan kesehatan seksual

Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau beresiko mengalami perubahan fungsi seksual yang negatif yang di pandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.

5.2. Saran

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Oleh karena itu seksualitas pada orang dewasa sangat dibutuhkan dalam keharmonisan keluarga.

Daftar Pustaka

Alimul H, A.A. 2006. Pengantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta: salemba medika.

Potter dan perry. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Edisi 4 Jakarta: EGC.

Stevens, P.J.M, Bordui,F dan Van der Weyde, JAG. 1999. Ilmu keperawatan. Jilid 2 Jakarta: EGC.

Anonim,.2010. Pengertian seksualitas. http://blog.re.or.id/seksualitas.htm. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,2010. anatomi dan fisiologi sistem reproduksi. http://www.masrie.co.cc. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,.2010. Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk orang dewasa. http://muallimat.blogspot.com. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2010. seksualitas. seksualitasblog.blogspot.com/…/proses-keperawatan-seksualitas.html. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim,2008. abnormalitas seksual.. http://muallimat.blogspot.com/2008/11. di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2008. rencana-asuhan-keperawatan. http://gwanakbstikes.blogspot.com. Di akses pada 2 januari 2011.

Anonim, 2010. Alat genital pria dan wanita. http://id.wikipedia.7val.com/wiki/. Di akses pada januari 2011.

KEBUTUHAN ELIMINASI URINE

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA I

Disusun Oleh

ANANG WIJANGKORO

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR

ILMU KEPERAWATAN (KARYAWAN)

2010


KATA PENGANTAR

Alhamdulilahhirobilalamin segala puji dan syukurpenulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Kebutuhan eliminasi urine”. Makalah ini dibuat untuk mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Dalam penulisan  Makalah ini Penulis sering kali menemui sedikit kesulitan dalam mencari sumber data , namun dengan berjalannya waktu serta dorongan dari pihak keluarga dan teman-teman sebagai penyemangat, Alhamdulillah Penulis dapat menyelesaikan dengan sebaik mungkin. Dengan mengetahui tentang  kebutuhan eliminasi urine, Penulis dapat menambah ilmu tentang tentang pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Semoga Makalah ini bisa memberikan hasil yang baik dan menjadi sumber bacaan atau sebagai ilmu yang bermanfaat. Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun sangat Penulis harapkan. Akhirnya Penulis ucapkan terima kasih kepada keluarga serta teman-teman yang telah memberi dukungan penuh, baik moril maupun materi. Mudah–mudahan makalah ini dapat diterima dengan baik dan menjadi inspirasi bagi pembaca.

Banjar, 06  Juni  2010

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan 2

1.3 Metoda Penulisan 2

1.4 Sistematika Penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Anatomi Fisiologi sistem Perkemihan 4

2.2 Organ yang berperan dalam sistem  Perkemihan 6

2.3 Proses berkemih 9

2.4 Faktor yang mempengaruhi proses berkemih 9

2.5 Pemeriksaan diagnostik pada pasien dengan gangguan eliminasi

urine 11

2.6 masalah-masalah dalam kebutuhan eliminasi urine 11

2.7 Perubahan Pola berkemih 13

BAB III Konsep dasar Asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan

Eliminasi urine

3.1 Pengkajian 14

3.2 Diagnosa 15

3.3 Perencanaan dan intervensi 16

3.5  Enuresis 18

3.6 Evaluasi 18

BAB IV Prosedur tindakan keperawatan pada pasien dengan masalah elimi

Minasi urine

4.1 Pengumpulan urine 19

4.2 Menolong BAK dengan menggunakan urinal 20

4.3 Melakukan kateterisasi 21

4.4 Pemasangan kondom kateter 24

4.5 Bladder Training 27

BAB V PENUTUP

5.1   Kesimpulan 28

5.2   Saran 28

DAFTAR PUSTAKA 29


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001)

Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umu, kurang lebih 5 – 15 %.

Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama scherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemiha, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998)

Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI paa pria jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari traktus urinarius.

1.2 TUJUAN

  1. Mengetahui konsep anataomi dasar dari system perkemihan
  2. Mengetahui organ  yang berperan dalam proses eliminasi
  3. Mengetahui prinsip dasar pemenuhan kebutuhan eliminasi
  4. Mengetahui proses berkemihan
  5. Mengetahui beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses eliminasi
  6. Mengetahui pemeriksaan diagnostis pada pasien dengan gangguan eliminasi urine.
  7. Mengetahui masalah-masalah dalam kebutuhan eliminasi urine
  8. Mengetahui perubahan eliminasi urine
  9. Mengetahui tindakan atau penanganan secara medis mengatasi masalah eliminasi urine

1.3       METODE PENULISAN

Penulisan Makalah ini mengunakan metode dengan studi kepustakaan, dan pengumpulan data- data dari berbagai sumber-sumber buku atau pencarian dengan melalui penyelusuran situs atau blog kesehatan.

1.4       SISTIMATIKA PENULISAN

Bab I      :  Pendahuluan

Bab II     :  Konsep dasar Anatomi Fisiologo Sistem Perkemihan

Bab III     :  Konsep Dasar Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan gangguan Eliminasi urine meliputi  :  Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, pelaksanaan dan Evaluasi.

Bab IV   :  Prosedur tindakan Keperawatan pada pasien dengan masalah eli-minasi urine.

Bab V    : Kesimpilan, Saran

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       KONSEP DASAR ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN

1.Proses pembentukan urine

Ginjal mengandung lebih dari 1 juta neprhon yang terdiri dari satu renal karpuskal dan tubulus-tubulus dengan bentuk yang jelas.Setiap hari ada sekitar 1700L

Darah (1,2L/menit),yang mengalir melalui nepron yang terletak di dalam korteks renalis.Kapile-kapiler gromerolus menghasilkan sekitar 180L cairan filtrat setiap hari,99% akan di serap kembali oleh system tubulus dan masuk ke dalam darah.Sisa cairan akan menjadi lebih pekat di dalam medulla renalis di ansa henle dan tubulus colligentos.Akhirnya cairan mengalir ke dalam renal cilicus,urn dan pelvis renis melalui ureter masuk ke dalam vesica urinaria dan dari sini dikeluarkan melalui uretra (kira-kira 1,5L/hari).

Komposisi normal urine

jimlah:900-1500ml/24 jam (bervariasi sesuai dangan asupan cairan dan jumlah cairan yang keluar melalui jalan lain).

Berat jenis:N02-1003(yang menandakan jumlah substansi yang terr=larut di dalamnya),

Reaksi:Asam PH sekitar 0,6.

Warna:Sehubungan dengan urokom (pigmen yang berasal tak tentu).

-Kompisisi

a.Air

b.Urea 20-30 dalam 24 jam

c.Asam urat 0,6 gram dalam 24 jam

d.Kretinin 1-2 gram dalam 24 jam

e.Natrium kaium ffosfat

f.klorida sulfat.

Bagian-Bagian Nefron

nefron terbentuk dari tubulus renalis,merupakan gromerolus dan berhubungan dengan pembuluh darah.Masing-masing tubulus renalis merupakan tubulus yang berbengkok-bengkok,di selaputi oleh lapisan sel-ssel kuboid.Tubulus renalis mulai sebagai kapsula bowmandula,lapisan terbentuk mangkuk menutupi gromerolus;saling melilitkan diri membentuk tubulus kovolute proksimal,menjalar dan korteks sebagian medulla dan sebagian lagi ke bagian korteks membentuk tubulus konvolute distal berakhir dgn memasuki tubulus pengumpul.

Pencernaan

1.mulut:Memasukkan makanan

2.Lambung:Menampung makana dalam kantung dan melepaskan makanan tersebut secara bertahap dalam usus.

3.Usus halus:Mensekresikan cairan usus,menerima cairan empedu dan pancreas,mencerna makanan,mengabsorbsi air,gram dan vitamin.

4.Usus Besar

mernsekresikan kalium ke dalam klandungan kolon.

Perkemihan

1. Ureter

2. kandung kemih

3. uretra

proses feses

Bahan makanan di serat pembuluh getah bening melalui lipatan usus kemudian masuk usus besar kemudian bubur bahabn makanan itu di padatkan,di tampung melalui gerak antiperistaltik yang terdiri dari bakteri yang dikeluarkan.

5.Suplai darah dari arteria renalis dari aorta,kemudian arteria renalis kanan melewati bagian belakang vena kava inferior,jumlah darah lewat melalui ginjal nadalah sangat besar .Sedangkan suplai darah yang melalui vena renalis ke dalam vena kava inferior lalu vena kava renalis kiri melalui bagian depan.

2.2 ORGAN YANG BERPERAN DALAM SISTEM PERKEMIHAN

urinarytract adalah suatu sistem urinal saluran di dalam tubuh kita, yang diantaranya meliputi ginjal dan saluran keluarnya berfungsi untuk membersihkan tubuh manusia dari zat-zat yang mungkin tidak diperlukan lagi oleh tubuh manusia. sistem ini selalu mengolah mejadi zat-zat yang berupa sesuatu yang larut dalam air.

2.2.1 Ginjal

Letak ginjal pada dinding posterior abdomen, didaerah lumbal kanan dan kiri columna vertebratis. Kedudukan ginjal dari belakang mulai ketinggian vertebra terakolis ke 22 sampai vertebra lumbal ke 3.

Ginjal adalah organ yang berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm ( kurang lebih sebesar kepalan tangan ). Beratnya antara 125 – 175 g pada laki-laki dan 115 – 155 g pada wanita. Ginjal terletak pada dinding abdomen posterior berdekatan dengan dua pasang iga terakhir, dan merupakan organ

Ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri. Bentuknya seperti kacang dengan warna coklat kemerah merahan. Satuan fungsional ginjal disebut “Nefron” terdapat ± 1.000.000 nefron dalam 1 ginjal. Setiap nefron terdiri dari elomelorus / badan malpighi.

Fungsi Ginjal:

  • Produksi sel darah merah
  • Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah atau asam amino darah
  • Mengeluarkan konsentrasi ion penting
  • Mengeluarkan zat sisa organik.
  • Pengaturan tekanan darah
  • Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh
  • Pengeluaran zat beracun.

2.2.2 Ureter

berjenis 2 pipa pipa saluran yang bersambung dengan ginjal mengarah ke kantung kencing (vesika urinaria). Ureter mencapai panjang ± 35-40 cm dengan diameter 3mm.

Ureter terdiri 3 lapisan, yaitu :

a. Lapisan luar (fibrosa)

b. Lapisan tengah yang berotot

c. Lapisan dalam (lapisan mukosa)

Vesika urinasia = bladder =buli-buli

Bladder merupakan sebuah kantor yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai penampang urine (air seni). Kandung kemih ini bentuknya oblight untuk menghindari urine kembali keatas. urine dikatan masih normal sampai 200-400 ml. Kapasitas kandung kaemih dewasa ±100-150 ml

2.2.3 Uretra

Uretra adalah organ yang berfungsi saluran urine ke bagian luar. Namun fungsi uretra pada wanita berbeda pada uretra laki-laki. Pada laki-laki, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan sistem reproduksi, berukuran panjang 18 – 20cm, dan terdiri dari atas 3 bagian; yaitu prostat, selaput (membran) dan bagian yang berongga ( ruang ). Pada wanita, uretra berfungsi hanya untuk menyalurkan urine kebagian luar tubuh dengan panjang ± 4 cm.

Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urin oria berisi kurang lebih 250-450 cc (dewasa) dan 200-250 cc (anak-anak). Karena berkemih merupakan proses pengosongan Vesika Urinaria.

Buli-buli/bladder atau yang sering di sebut kandung kemih adalah sebuah kantong yang meliputi atas otot halus, fungsinya menampung urine. Di dalam kandung kemih terdapat beberapa lapisan jaringan otot yang paling dalam, memanjang ditengah, dan melingkar yang sering disebut sebagai destrusor, fungsinya sebagai pengeluaran urine bila terjadi kontraksi.

2.4   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BERKEMIH

Faktor yg Mempengaruhi Eliminasi Urine

1. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.

2. Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet.

3. Diet dan Asupan ( intake )

Jumlah dan tipe makanan merupakan faiKtcw utama yang memengaruhi output urine ( jumlah urine ). Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.

4. Stres Psikologis

Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.

6. Tingkat Perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang air kecil.

7. Kondisi Penyakit

Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.

8. Sosiokultural

Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang meaarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.

9. Kebiasaan Seseorang

Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal / pot urine bila dalam keadaan sakit.

10. Tonus Otot

Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otioti kandung kemih, otot abdomen dan pelvis.

2.5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ELIMINASI  URINE.

v     Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia)

v     Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya inkontinensi urine.

v     Resiko infeksi berhubungan dengan retensi urine, pemasangan kateter.

v     Potensial defisit volume cairan berhubungan dengan gangguan fungsi saluran urinary akibat proses penyakit.

v     Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang  proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah

2.6. MASALAH-MASALAH DALAM ELIMINASI

Masalah-masalahnya adalah : retensi, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola urine (frekuensi, keinginan (urgensi), poliurine dan urine suppression).

Penyebab umum masalah ini adalah :

1.    Obstruksi

2.    Pertumbuhan jaringan abnormal

3.    Batu

4.    Infeksi

Masalah-masalah lain.

1.   Retensi

Penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri.  Menyebabkan distensi kandung kemih  Normal urine berada di kandung kemih 250 – 450 ml Urine ini merangsang refleks untuk berkemih.

Dalam keadaan distensi, kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine

Tanda-tanda klinis retensi
-   Ketidaknyamanan daerah pubis.
-   Distensi kandung kemih
-   Ketidak sanggupan unutk berkemih.
-   Sering berkeih dalam kandung kemih yang sedikit (25 – 50 ml)
-   Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.
-   Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
Penyebab
-   Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih, urethra.
-   Pembesaran kelenjar prostat
-   Strikture urethra.
-   Trauma sumsum tulang belakang.

2.         Inkontinensi urine

Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih, Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensi inkontinensi komplit, Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia inkontinensi sebagian

Penyebab Inkontinensi
-   Proses ketuaan
-   Pembesaran kelenjar prostat
-   Spasme kandung kemih
-  Menurunnya kesadaran
-  Menggunakan obat narkotik sedative

2.7  PERUBAHAN POLA BERKEMIH

Masalah-masalah yang timbul karena saluran urinaria diantaranya

1. Urinari suppresi

Adalah berhenti mendadak produksi urine. Secara normnal urine diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan 60 – 120 ml/jam (720 – 1440 ml/hari) dewasa. Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urine kurang dari 100 ml/hari disanuria. Produksi urine abnormal dalam jumlah sedikit oleh ginjal disebut oliguria misalnya 100 – 500 ml/hari.

2.  Urgency

-    Adalah perasaan seseorang untuk berkemih

-    Sering seseorang tergesa-gesa ke toilet takut mengalami inkontinensi jika tidak

berkemih

-    Pada umumnya anak kecil masih buruk kemampuan mengontrol sfingter eksternal.

3.  Frekuensi

-    Normal, meningkatnya frekuensi berkemih, karena meningkatnya cairan

-    Frekuensi tinggi tanpa suatu tekanan intake cairan dapat diakibatkan karena cystitis

-    Frekuensi tinggi pada orang stress dan orang hamil

-    Canture / nokturia meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, tetapi ini

tidak akibat meningkatnya intake cairan.

4. Dysuria

Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih. Dapat terjadi karena : striktura urethra, infeksi perkemihan, trauma pada kandung kemih dan urethra.

5. Polyuria

Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan. Dapat terjadi karena : DM, defisiensi ADH, penyakit ginjal kronik.  Tanda-tanda lain adalah : polydipsi, dehidrasi dan hilangnya berat badan.

BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN GANGGUAN ELIMINASI URINE

3.1 PENGKAJIAN

Dalam melakukan pengkajian pada klien gangguan kemih menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :

Data biologis meliputi :

1)Identitas klien

2)Identitas penanggung

Riwayat kesehatan :

1)Riwayat infeksi saluran kemih

2)Riwayat pernah menderita batu ginjal

3)Riwayat penyakit DM, jantung.

Pengkajian fisik :

1)Palpasi kandung kemih

2)Inspeksi daerah meatus

a)Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine

b)Pengkajian pada costovertebralis

Riwayat psikososial

Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan

Persepsi terhadap kondisi penyakit

Mekanisme kopin dan system pendukung

Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga

1)Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit

2)Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis

3.2         DIAGNOSA KEPERAWATAN
-   Perubahan konsep diri berhubungan dengan inkontinensi

-   Perubahan dalam eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine,

inkontinensi & enuresis
-   Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya inkontinensi urine
-   Perubahan dalam rasa nyaman berhubungan dengan dysuria
-   Resiko infeksi berhubungan dengan retensi urine, pemasangan kateter
-  Potensial defisit volume cairan berhubungan dengan gangguan fungsi saluran

urinary akibat proses penyakit

-  Gangguan body image berhubungan dengan pemasangan urinary diversi ostomy

-  Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterampilan pemasangan diversi

urinary ostomy

3.3      PERENCANAAN & INTERVENSI

Tujuan :

-   Mencegah kerusakan kulit

-   Mencegah infeksi saluran kemih
-   Memberikan intake cairan secara tepat
-   Memastikan keseimbangan intake dan output cairan
-   Mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
-   Memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional

3.4    TINDAKAN

3. 4.1   Tindakan secara umum

Pasien dengan infeksi perkemihan, cairannya sering ditingkatkan. Pasien dengan edema cairannya dibatasi.
-   Mengukur intake dan output cairan. Jumlah caiaran yang masuk dan keluar dalam setiap hari     harus diukur, untuk mengetahui kesimbangan cairan.
-   Membantu pasien mempertahankan posisi normal untuk berkemih
-   Memberikan kebebasan untuk pasien
-   Memberikan bantuan pada saat pasien pertama kali merasa ingin buang air kecil
-   Jika menggunakan bedpan atau urinal yakin itu dalam keadaan hangat.
-  Bila pasien menggunakan bedpan, tinggikan bagian kepala tempat tidur dengan posisi fowler     dan letakkan bantal kecil dibawah leher untuk meningkatkan support dan kenyamanan fisik (prosedur membantu memberi pispot/urinal) Tuangkan air hangat dalam perineum
-   Mengalirkan air keran dalam jarak yang kedengaran pasien
-   Memberikan obat-obatan yang diperlukan untuk mengurangi nyeri dan membantu relaks otot. Letakkan secara hati-hati tekan kebawah diatas kandung kemih pada waktu berkemih
-   Menenangkan pasien dan menghilangkan sesuatu yang dapat menimbulkan kecemasan.

3.4.2  Tindakan hygienis

Tujuannya untuk memberikan rasa nyaman dan mencegah infeksi. Untuk mempertahankan kebersihan di daerah genital.

3.4.3  Tindakan spesifik masalah perkemihan

1.  Retensi urin

Membantu dalam mempertahankan pola berkemih secara normal. Jika tejadi pada post operasi —- berikan analgetik. Kateterisasi urin

  1. Inkontinensi

-    Meningkatkan aktifitas fisik untuk meningkatkan tonus otot dan sirkulasi darah selanjutnya menolong pasien mengontrol berkemih

-    Menetapkan rencana berkemih secara teratur dan menolong pasien mempertahankan itu

-    Mengatur intake cairan, khususnya sebelum pasien istirahat, mengurangi kebutuhan berkemih

-    Tindakan melindungi dengan menggunakan alas untuk mempertahankan laken agar tetap kering

-    Merasa yakin bahwa toilet dan bedpan dalam jangkauannya

-    Untuk pasien pria yang dapat berjalan/berbaring ditempat tidur, inkontinensi tidak dikontrol dapat menggunakan kondom atau kateter penis.

-    Untuk pasien yang mengalami kelemahan kandung kemih pengeluaran manual dengan tekanan kandung kemih diperlukan untuk mengeluarkan urin.

3.5  ENURESIS

  • Untuk enuresis yang kompleks, maka perlu dikaji komprehensif riwayat fisik dan psikologi, selain itu juga urinalisis ( fisik, kimia atau pemeriksaan mikroskopis ) untuk mengetahui penyebabnya.
  • Mencegah agar tidak terjadi konflik kedua orang tua dan anak-anaknya.
  • Membatasi cairan sebelum tidur dan mengosongkan kandung kemih sebelum tidur / secara teratur.

3.6. EVALUASI

Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan gangguan pemenuhan eliminasi urine adalah, mengacu pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat :

1.   Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih.

2.   Nyeri yang menetap atau bertambah

3.   Perubahan warna urine


BAB IV

PROSEDUR TINDAKAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN MASALAH ELIMINASI URINE

4.1 PENGUMPULAN URINE UNTUK BAHAN PEMERIKSAAN

Pentingnya pemeriksaan dengan bahan urine tersebut berbeda-beda, maka dalam pengambilan atau pengumpulan urine juga dibedakan sesuai dengan tujuannya. Di antara cara pengambilan urine tersebut antara lain: pengambilan urine biasa, pengambilan urine steril, dan pengumpulan selama 24 jam.

  1. Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine de:ngan menggunakan alat stieril, dilakukan dengan cara kateterisasi atau fungsi suprapubis yang bertujuan mengetahui adanya infeksi pada uretra, ginjal, atau saluran kemih lainnya.
  2. Pengambilan urine biasa merupakan pengambilan urine dengan cara mengeluarkan urine secara biasa yaitu buang air kecil. Pengambilan urine biasa ini biasanya digunakan untuk pemeriksaan kadar gula dalam urine, pemeriksaan kehamilan, dan lain-lain.
  3. Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam, bertujuan untuk mengetahui jumlah urine selama 24 jam dan mengukur berat jenis, asupan dan output, serta mengetahui fungsi ginjal.

A.        Alat

  1. Botol penampung beserta penutup.
  2. Etiket khusus.

B.        Prosedur Kerja ( untuk pasien mampu buang air kecil sendiri )

  1. Cuci tangan.
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
    1. Bagi pasien yangtidak mampu sendiri untuk buang air kecil maka bantu untuk buang air kecil ( lihat prosedur menolong buang air kecil), keluarkan urine, setelah itu tampung ke dalam botol.
    2. Bagi pasien yang mampu untuk buang air kecil sendiri anjurkan pasien untuk buang air kecil biarkan urine yang pertama keluar dahulu, kemudian anjurkan menampung urine ke dalam botol.
    3. Catat nama pasien, dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.
    4. Cuci tangan.

4.2       MENOLONG BUANG AIR KECIL DENGAN MENGGUNAKAN URINAL

Tindakan perawat dengan membantu pasien yang dapat buang air kecil sendiri di kamar kecil dengan menggunakan alat penapung (urineal) dengan tujuan manampung urine dan mengetahui kelainan dari urine (warna, dan jumlah).
Alat dan bahan :
1. Urineal.
2. Pengalas.
3. Tisu.

Prosedur Kerja          :
1. Cuci tangan ,
2. Jelaskan prosedur pada pasien.
3. Pasang alas urineal di bawah glutea.
4. hepas pakaian bawah pasien.
5. Yasang urinceal di bawah glutea/pinggul atau di antara kedua paha.
6. Anjurkan pasien untuk berkemih.
7. Setelah selesai rapikan alat.
8. Cuci tiangan, catat warna, dan jumlah produksi urine.

4.3  LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN KATETERISASI

Sarana dan persiapan pada wanita dan laki-laki

A.         Alat

a.    Tromol steril berisi
b.    Gass steril
c.    Deppers steril
d.    Handscoen
e.    Cucing
f.     Neirbecken
g.    Pinset anatomis
h.    Doek
i.     Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan
j.     Tempat spesimen urine jika diperlukan
k.    Urobag
l.     Perlak dan pengalasnya

m.   Disposable spuit
n.    Selimut

B.   Obat

a.    Aquadest
b.    Bethadine
c.    Alkohol 70 %

C.     Petugas

a.   Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam  rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi

b.   Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud

c.   Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaan penderita, melakukan tindakan harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati

d.   Diharapkan penderita telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan.

D.        Penderit

Penderita telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent.  Penatalaksanaan :

1.    Menyiapkan penderita : untuk penderita laki-laki dengan posisi terlentang sedang wanita dengan posisi dorsal recumbent

2.   Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik

3.   Siapkan deppers dan cucing , tuangkan bethadine secukupnya

4.   Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita

5.    Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine

6.   Melakukan desinfeksi sebagai berikut :

  • Pada penderita laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan . desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.
  • Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora, desinfeksi dimulai dari atas ( clitoris ), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali . deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan penampakan meatus urethra.
  1. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk penderita laki- laki dan 4 cm untuk penderita wanita. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jelly dalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit.
  2. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik nafas dalam.
  • Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan.
  • Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.
  • Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . kaji kelancaran pemasukan kateter, jik ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.
  1. Mengambil spesimen urine kalau perlu
  2. Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai
  3. Memfiksasi kateter :

Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomen
Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha

  1. Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih
  2. Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi :
  • Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
  • Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
  • Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
  • Nama terang dan tanda tangan pemasang
    4.4      LANGKAH-LANGKAH PEMASANGAN KONDOM KATETER

1.   Pengertian

Alat drainase urine eksternal yang mudah digunakan dan aman untuk mengalirkan urine pada klien

2.   Tujuan

a.         Mengumpulkan urine dan mengontrol urine inkontinen

b.         Klien dapat melakukan aktifitas fisik tanpa harus merasa malu karena adanya kebocoran urine (ngompol)

c.         Mencegah iritasi pada kulit akibat urine inkontinen

3.   Persiapan
a. Persiapan pasien
1)        Mengucapkan salam terapeutik
2)        Memperkenalkan diri
3)        Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.
4)        Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5)        Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
6)        Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
7)        Privacy klien selama komunikasi dihargai.

8)        Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
9)        Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

b.      Persiapan alat

1)        Selaput kondom kateter
2)        Strip elastic
3)        Kantung penampung urine dengan selang drainase
4)        Baskom dengan air hangat dan sabun
5)        Handuk dan waslap
6)        Selimut mandi
7)        Sarung tangan
8          Gunting

c. Prosedur

*          Cuci tangan
*          Tutup pintu atau tirai samping tempat tidur
*          Jelaskan prosedur pada klien
*          Gunakan sarung tangan
*          Bantu klien pada posisi terlentang. Letakkan selimut diatas bagian tubuh bagian atas di tutup ekstremitas bawahnya dengan selimut mandi sehingga hanya genitalia yang terpajan

*          Bersihkan genitalia dengan sabun dan air, keringkan secara menyeluruh
*          Siapkan drainase kantong urine dengan menggantungkannya ke rangka tempat tidur.
*          Dengan tangan nonn dominan genggam penis klien dengan kuat sepanjang batangnya. Dengan tangan dominan, pegang kantung kondom pada ujung penis dan dengan perlahan pasangkan pada ujung penis
*          Sisakan 2,5 sampai 5 cm ruang antara glands penis dan ujung kondom
*          Lilitkan batang penis dengan perekat elastic.
*          Hubungkan selang drainase pada ujung kondom kateter
*          Posisikan klien pada posisi yang aman
*          Pasien dirapihkan kembali
*          Alat dirapihkan kembali
*          Mencuci tangan
*          Melaksanakan dokumentasi :

1)        Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien
2)        Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

4.5   BLADDER TRAINING

Definisi

pelatihan kandung kemih adalah perawatan teknik modifikasi perilaku untuk inkontinensia yang melibatkan menempatkan pasien pada jadwal pergi ke toilet. Interval waktu antara buang air kecil secara bertahap meningkat untuk melatih pasien untuk remain

Tujuan pelatihan kandung kemih digunakan untuk mengobati inkontinensia mendesak kemih. Mendesak inkontinensia terjadi ketika seseorang merasakan kebutuhan tiba-tiba untuk buang air kecil dan tidak dapat mengendalikan dorongan untuk melakukannya dan, sebagai akibatnya, tanpa sadar kehilangan urin sebelum membuat ke ke toilet

Tindakan pencegahan Inkontinensia dapat dikontrol melalui sejumlah pilihan pengobatan invasif dan non-invasif, termasuk latihan kegel, biofeedback, pelatihan kandung kemih, obat-obatan, perangkat inkontinensia insertable, dan pembedahan. Setiap pasien harus menjalani penuh diagnostik kerja-up untuk menentukan jenis dan penyebab inkontinensia dalam rangka untuk menentukan jalan terbaik pengobatan.

BAB V
PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine, inkontinensia urine dan enuresis.

Sedangkan system tubuh yang berperan dalam proses eliminasi alvi atau buang air besar adalah system gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi terjadi proses defekasi. Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi antara lain: usia, diet, asupan cairan, aktifitas, gaya hidup dan penyakit.

B. SARAN

Kita harus lebih memperhatikan kebutuhan eliminasi urine dan alvi dalam kehidupan kita Sehari-hari. Menjaga kebersihan daerah tempat keluarnya urine dan alvi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton. Anatomi fisiologi

2. Dr. H. Abdurauf,  MMR. Materi mata kuliah anatomi system urinaria (2010).

3. Harmawatia . (2008). Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Urine ( internet)

4. Asmadi. Tehnik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien

5. Barbara Kozier.. Fundamental of Nursing. (1985)

6. Ostergard DR, Seift SE. Ostergard’s Urogynecology and Pelvic Floor Dysfunction,5th ed. Lipiincoltt Willian & Wilkins, USA,1992: 285-91

7. Hellerstein S. Voiding Disfunction. Available at: http://www.emedicine.com. Accessed 25 February 2006

8. Saultz JW, Toffler WL, Shackles JY. Postpartum urinary retention. Available at: http://www.pubmed.gov. Accessed 25 February 2006

puisi

Posted: 20 Juli 2010 in Uncategorized

Akankah

Ketika jiwa tlah letih tuk melangkah..

Mencari dan trus berlari,

Karna hati tlah membatu berteman dendam yang sukar punah

Tapi hati menangis teriak kesakitan,,

karena benci jika harus merobek hati2 yang ta berdosa

tapi jiwa tlah marah karna raga terlilit sakit karna luka

mungkinkah jiwa kan terhenti tuk merobek hati2 yang ta berdosa

semuanya berawal dari hati, yangterlukai

Dan akan berakhir jika hati tlah bahagia berlabuh di tanjung hati yang suci dan- membuat kedamaian sejati…

Ku ta tau harus mencari dimana kedamaian itu

Jiwa ku tlah lelah dan letih

Mungkinkah langkahku kan terhenti

Terdiam untk s’lamanya……………………

…..anang bongkeng….

Hello world!

Posted: 20 Juli 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!